ciptakan impian-impianmu, tuliskan impian-impianmu,& teruslah berusaha untuk menggapai impian-impianmu.
Jumat, 25 Mei 2012
Senin, 30 April 2012
Tentang Jurnalistik
Jurnalistik berhubungan
erat dengan wawancara. Setelah pembahasan tentang wawancara beberapa waktu yang
lalu, saat ini akan coba saya tambahkan sedikit tentang wawancara dan penulisan
berita. Adapun wawancara itu terbagi dalam beberapa macam, diantaranya :
1.
Wawancara sosok pribadi
2.
Wawancara berita
3.
Wawancara jalanan
4.
Wawancara sambil lalu
5.
Wawancara telepon
6.
Wawancara tertulis
7.
Wawancara kelompok
Setelah seorang jurnalis
melakukan wawancara, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menuliskan
hasil wawancaranya dalam bentuk berita. Menulis berita tidak hanya asal
menuliskan, namun juga ada teknik-teknik penulisannya. Diantara teknik
penulisan berita tersebut ialah:
Dalam pola penulisan
Piramida Terbalik itu seharusnya:
Adapun maksud dari
Piramida Terbalik itu diantaranya adalah untuk memudahkan pembaca untuk segera
menemukan berita yang dianggap menarik.
Susunan berita itu
terdiri dari:
Judul berita itu
diupayakan harus memenuhi beberapa unsur dibawah ini:
Pada paragraf pertama lead
atau teras berita merupakan paragraf yang memuat fakta atau informasi
terpenting dari keseluruhan berita. Lead atau teras berita diupayakan terdiri
dari 4-30 kata dan harus mengandung unsur-unsur :
·
Atraktif : mampu
membagkitkan minat baca pada khalayak
·
Introduktif : harus bisa
menyatakan pokok persoalan yang dikupas dengan tegas dan jelas
·
Korelatif : harus bisa
membuka jalan bagi kemunculan kalimat untuk paragaraf kedua dan seterusnya.
·
Kredibilitas : mencerminkan
bobot akademis reporter dan media massanya
Sabtu, 28 April 2012
Feature "Di Balik Senyuman Maryanto"
“Mari..mari...hati..hati…” empat kata khas disertai senyuman yang
selalu terlontar dari Maryanto, 48 tahun, saat membalas sapaan orang-orang yang
melintas didepannya, sambil menggerakkan pergelangan tangannya maju mundur, menghaluskan
gula merah, campuran air dan buah asem serta cabe. Pekerjaan semacam ini sudah
ia lakukan sejak tiga puluh satu tahun yang lalu. Semenjak Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) masih memiliki satu kampus yang terletak di Jl.
HOS Cokroaminoto 17 Wirobrajan, Yogyakarta.
Maryanto memulai pekerjaannya sebagai penjual Lutis sejak UMY baru
pertama kali berdiri. Ia menjajakan jualannya di depan Masjid Amal Mulia. Namun
ketika UMY berpindah tempat dan berpusat di Bantul, Maryanto masih berjualan di
Wirobrajan. Barulah ketika asrama UMY, University Resident (UNIRES) berdiri,
dia berpindah tempat dan mulai berjualan di depan UNIRES Putri.
Kehidupan Maryanto nyatanya tidak sebanding dengan perkembangan UMY
yang mulai tumbuh menjadi sebuah Universitas ternama di Yogyakarta. Meski ia
hampir menjalani separuh hidupnya bersamaan dengan berkembanngya UMY. Namun
hingga kini kondisinya masih belum semapan UMY.
Maryanto mulai berjualan Lutis sejak harganya masih Rp. 100,-.
Barulah setelah berakhirnya masa kepemimpinan Suharto, harga Lutis yang dia
jual bertahap naik menjadi Rp. 500,- , Rp. 1.500,- , Rp. 2.000,- , Rp. 2.500,-
, Rp. 3.000,- dan sekarang menjadi Rp. 3.500,-. Harga yang cukup rendah bila
dibandingkan dengan harga-harga kebutuhan pokok saat ini.
Istri Maryanto hanya bisa membantunya dengan menjadi penjahit, akan
tetapi hal itu pun tidak dapat dilakukan secara maksimal oleh istrinya. Karena
istrinya masih harus mengurus anak-anaknya yang masih duduk di kelas 2 SMP dan
kelas 2 SD. “Jadi gitu! Ya..kalau dua-duanya sama-sama mencari uang nanti anak
yang kalah. Nggak pernah TPA, nggak mau belajar dan kalah sama
TV, itu pasti,” ujar Maryanto sambil mengiris-iris buah nanas.
Sebagai penjual Lutis, Maryanto dan keluarganya yang saat ini
tinggal di Dusun Ngebel, Tamantirto, Kasihan-Bantul, memang tidak memiliki
pelanggan tetap yang bisa membeli jualannya setiap hari. Selain itu, bila musim
hujan datang pembelinya pun akan berkurang, padahal kebutuhan rumah tangga
harus tetap ia penuhi. Oleh karena itu, di saat seperti itu ia terus mencari
siasat dan memutar otaknya agar pendapatan bisa kembali stabil.
Langkah atau jalan yang dia ambil ketika mengalami masa-masa sulit
seperti itu biasanya adalah dengan tidak mengandalkan pendapatan dari satu
titik (menjual Lutis). Ia akan menjualkan dan menawarkan makanan lain pada
pembeli, seperti dengan menjual roti bakar, bakpao, es kelapa muda, dan
lainnya.
Dengan begitu, dia dapat menjualkan dua jenis makanan berbeda pada
pembeli. Akan tetapi, bila waktu pengambilan rapot sekolah tiba, dana dari
penjualan makanan selain Lutis itu akan habis untuk membayar tunggakan sekolah.
Begitulah selalu, dan ia pun akan kembali mengumpulkan dana untuk menjualkan
makanan lain sebagai tambahan dari menjual Lutis.
Penghasilan perhari yang ia dapatkan pun terkadang tidak sebanding
dengan harga kebutuhan pokok. “Kalau sekarang bilang begitu susah, masalahnya
sekarang harga gula merah mahal, bahan-bahan lutisnya juga mahal, tapi yang
penting kita bisa muter, jalan, dan kondisi keluarga bisa tercukupi, walaupun
yah..terseok-seok juga,” ungkap Maryanto sambil tersenyum.
Walaupun kebutuhan keluarga Maryanto terkadang tidak bisa tercukupi
dengan baik, namun Maryanto masih tetap mensyukuri keadaannya dan keluarga
kecilnya. “Yah..namanya juga jualan, kadang laku kadang nggak. Tetapi
ya, kita kan harus selalu mensyukuri nikmat yang ada, janji Allah manakala kita
selalu mensyukuri nikmat Allah, Allah akan melipatgandakan, kan begitu,” ungkap
Maryanto lagi masih dengan senyum dan semangatnya mencari rizki.
Memang benar apa yang dikatakan Maryanto, pernyataannya jelas-jelas
dapat kita temui dalam ayat al-Qur’an Surah Ibrohim ayat 7 “Dan (ingatlah)
ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan
menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
pasti adzab-Ku sangat berat.”
Ketika diri kita sudah terbiasa bersyukur dengan segala nikmat yang
telah diberikan Allah, maka diri kita pun akan terlatih untuk senantiasa
bertawakkal dan berserah diri pada Allah. Hingga dengan begitu “Barang siapa
bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan
Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa
bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS.
Ath-Thalaq : 2-3)
Jumat, 27 April 2012
Berita 2
Sekolah
Immawati Mendapat Materi Gender
Sakinatudh
Dhuhuriyah
YOGYAKARTA
– Hari pertama Sekolah Immawati yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
(IMM) Cabang AR Fakhruddin Kota Yogyakarta membahas materi tentang ‘Kosep Gender
dan Pengarusutamaan Gender.’ Pengurus Sekolah Immawati mengundang Ane
Permatasari, Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) UMY sebagai pemateri utamanya.
“Banyak
orang yang salah kaprah tentang arti gender, mereka mengartikan gender sebagai
sebuah keharusan yang tertanam dalam diri laki-laki atau perempuan yang tidak
bisa diubah. Anggapan bahwa seorang perempuan meski dia telah menuntut ilmu
hingga perguruan tinggi, namun ujung-ujungnya dia pasti akan ke dapur juga
(mengurus semua pekerjaan rumah tangga,red) masih sering kita temui dalam
kehidupan sehari-hari,” kata Ane Permatasari, Senin (17/10)
Padahal,
lanjutnya, gender itu sebenarnya adalah sebuah konsep tentang peran dan
tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang dibentuk hubungan sosial budaya dan
dapat diubah. Jadi, permasalahan tentang perbedaan peran sosial antara
perempuan dan laki-laki saat ini, merupakan hasil kebudayaan di mana mereka tinggal. Hasil dari
kebudayaan sudah pasti memungkinkan untuk berubah, karena hal itu merupakan
sesuatu yang berasal dari kesepakatan manusia.
“Anggapan bahwa perempuan itu lemah lembut, sopan, emosional, irasional,
dan pasif, sedangkan laki-laki itu agresif, kuat, rasional, tidak emosional,
berani dan aktif, itu semua adalah hasil budaya yang bisa berubah. Adapun jenis
kelamin, perempuan bisa hamil, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki
tidak itu semua adalah kodrat. Itulah sebenarnya yang membedakan antara gender
dengan seks. Dan kodrat sudah jelas tidak bisa diubah, karena hal itu pemberian
Tuhan kepada makhluk-Nya,” jelasnya.
Ane
Permatasari mengibarat seekor burung yang patah satu salah sayapnya maka
burung itu tidak akan bisa lagi untuk terbang. “Begitu pula dengan perempuan di
negeri kita, jika hanya salah satu pihak (laki-laki, red) saja yang diuntungkan
sedangkan yang lain (perempuan,red) tidak, maka nasib kita sama dengan seeokor
burung yang sayapnya patah itu,” imbuh Ane Permatasri.
Sekolah Immawati ini merupakan program kerja baru yang dibuat pimpinan IMM
cabang AR Fahruddin Kota Yogyakarta untuk para kader perempuannya atau yang
lebih dikenal dengan sebutan Immawati. Salah satu faktor kenapa Sekolah
Immawati ini ada, adalah untuk menumbuhkan kesadaran gender di kalangan kader
IMM sendiri,” kata Ketua Bidang Immawati IMM cabang ARFakhruddin, Vivin
Permatasri, Senin (24/10). n
berita ini ditulis dalam rangka pemenuhan tugas kuliah, & berita ini juga sudah di koreksi oleh dosen pengampu mata kuliah Teknik Reportase.
Selasa, 24 April 2012
kumpulan berita 1
IMM Adakan Acara Bedah Film Cin(T)a
YOGYAKARTA – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
(IMM) Cabang Abdul Razak Fakhruddin kota Yogyakarta, mengadakan nonton bareng
dan bedah film “Cin(T)a”, Jum’at (16/12). Acara nonton bareng dan bedah film
ini dilaksanakan di ruang sidang gedung AR. Fakhruddin B lantai 5 Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Acara ini dihadiri oleh kalangan mahasiswa
UMY secara umum dan khususnya kader IMM dari UMY dan STIKES Aisyiyah Yogyakarta.
Dalam rangkaian acara ini, Nurwanto, MA.,
M. Ed (Peneliti Pendidikan Islam dan Dosen Fakultas Agama Islam UMY) sebagai
pembedah film menyatakan bahwa film-film yang beredar saat ini, memang
memungkinkan untuk memuat unsur-unsur propaganda, baik itu mengenai agama atau kepercayaan,
politik, atau hukum. Oleh sebab itu, beliau menyarankan untuk tidak serta merta
secara langsung menerima dan membenarkan cerita atau substansi yang disampaikan dalam sebuah film. Dan
tindakan yang harus diambil oleh seorang muslim adalah dengan tetap mengkritisi
segala sesuatu yang ditayangkan dalam sebuah film.
“Acara
bedah film seperti ini bagus juga. Karena bisa memancing jiwa kritis kita
sebagai mahasiswa. Kita juga diajak untuk mengambil nilai-nilai positif dan
mengkritisi sebuah film, serta sebagai bahan renungan untuk kita,” ungkap
Melawati, Kader IMM FAI UMY.
Sementara itu Rila, supervisor kegiatan
ini mengungkapkan bahwa film yang dipilih untuk dibedah adalah film “Cin(T)a”
karena film ini pernah mendapat penghargaan dari Eropa. Namun tujuan yang
terpenting dari acara ini adalah meningkatkan nalar kristis peserta.
Langganan:
Postingan (Atom)