Tampilkan postingan dengan label UMY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMY. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2012

Kenangan Muballigh Hijrah

Seribu Rasa Di Cilacap
Berdakwah itu memang butuh perjuangan. Tidak selamanya dakwah yang dilakukan itu akan berjalan dengan mudah. Terkadang kita membanyangkan bahwa saat kita berdakwah di suatu tempat, tidak akan ada halangan dan rintangan. Namun nyatanya hal itu keliru. Berdakwah itu memang butuh perjuangan, kesabaran, dan kekuatan hati serta iman. Apapun yang terjadi harus tetap dilalui tak mungkin bisa dihindari.
Baru kali ini aku mengikuti program Muballigh Hijrah (MH) sampai keluar kota atau keluar Jogja tepatnya. Sudah 4 kali berturut-turut aku mengikuti program dakwah semacam ini. Setelah sebelumnya pada bulan Ramadhan juga, saat masih duduk di kelas 3 Aliyah aku juga ditugaskan untuk melakukan dakwah di daerah yang lumayan jauh dari tempat tinggalku. Kemudian tahun 2010 aku juga mengikuti MH dari kampus untuk daerah Sewon Utara, lalu Ramadhan tahun berikutnya aku di rumah sendiri, dan tahun 2012 ini aku kembali mengikuti MH tapi bertempat di Cilacap.
Sungguh belum pernah terbayangkan sebelumnya, seperti apa Cilacap dan penduduknya. Yang aku tahu hanya sebatas bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa jawa ngapak. Sedangkan aku yang orang Madura ini, tentu saja berbeda jauh bahasanya. Meski bahasa jawa Jogja aku sudah bisa mengerti, tapi untuk bahasa jawa yang satu ini, aku masih ragu untuk bisa mengerti apa yang mereka katakan padaku nantinya.
Hari kamis, 19 Juli 2012, aku dan teman-temanku Dhita, Syadah, Winda, Lukman, Alfis, Usman, Firdaus dan adik angkatan kami, Nida ditemani Mas Imam ketua Lab. KPI berangkat ke Cilacap dengan menggunakan mobil FAI, sedang Lukman, Usman dan Firdaus mengendarai sepeda motor. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih 5 jam ini sedikit meninggalkan sedih dan rindu pada keluargaku dirumah. Karena selama 25 hari nanti aku akan berada ditempat asing yang belum pernah aku ketahui dan ku kenal sebelumnya.
Singkat cerita, sesampainya di Cilacap tepatnya di kecamatan Maos, kami berhenti dan berlabuh di Masjid At-Taqwa MaosLor. Setelah melaksanakan shalat dhuhur, kami langsung disambut oleh warga sekitar yang telah siap menjamu kami dengan makan siang. Sungguh serasa sangat dihormati sekali kedatangan kami kali itu. Namun entah apa yang akan terjadi selanjutnya, kami belum tahu dan hanya bisa mengira-ngira.
*** bersambung***

Kamis, 05 Juli 2012

Berita Jurnalistik: Diklat Jurnalistik, Pintu Awal Keanggotaan LPPM Nuansa

YOGYAKARTA – Lembaga Pengembangan dan Pers Mahasiswa (LPPM) Nuansa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jum’at (9/03) mengadakan diklat jurnalistik dasar untuk para anggota barunya. Kegiatan diklat ini dilaksanakan sejak hari Jum’at malam hingga Ahad sore, dan bertempat di kawasan Waduk Sermo Kulonprogo. Diklat jurnalistik ini dilaksanakan sebagai pintu awal peserta menjadi anggota tetap LPPM Nuansa.

Salah seorang pembicara diklat yang merupakan salah seorang reporter di Radar Jogja dan juga alumni jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY angkatan tahun 2006, mengatakan pada peserta diklat, “manjadi wartawan itu enak, karena kita bisa mengukur dan melihat progress atau perkembangan diri kita sendiri. Dan berpikir kritis adalah modal utama untuk menjadi wartawan.”

Pada kesempatan berikutnya, Ahad (11/03), ketua panitia diklat jurnalistik dasar, Ahlul Alamsyah menjelaskan, “tujuan diadakannya diklat ini adalah untuk menghidupkan kembali LPPM Nuansa yang sempat vakum beberapa waktu yang lalu. Selain itu juga, berdasarkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) kami, diklat jurnalistik dasar ini merupakan tahap awal bagi calon anggota muda LPPM Nuansa untuk menjadi anggota tetap di media pers kami.”

Dan harapan kami, lanjut Ahlul lagi yang juga merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY angkatan 2010, diklat jurnalistik ini dapat memberikan pandangan dasar pada calon anggota muda tentang jurnalistik.

Penjelasan lain mengenai calon anggota muda juga dijelaskan oleh Sekretaris Umum LPPM Nuansa,  Hermin “setelah acara diklat ini, para peserta diklat belum secara langsung menjadi anggota tetap LPPM Nuansa,” katanya.

Akan tetapi, lanjutnya lagi, para peserta tersebut terlebih dahulu akan menjadi anggota magang LPPM Nuansa selama satu bulan setengah. Kemudian setelah magang selesai barulah mereka akan menjadi anggota tetap Nuansa dan akan memiliki kartu pers mahasiswa. Dan para anggota muda juga akan mendapatkan bekal jurnalistik lainnya, melalui pelatihan-pelatihan jurnalistik berikutnya.

Kerja keras dan harapan dari panitia ini ternyata tidak sia-sia, hal tersebut dibuktikan dengan komentar salah seorang   peserta diklat, Ilmiyanti mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UMY, “banyak pelatihan jurnalisme yang mengena di jiwa karena dikaitkan dengan alam dan intuisi seorang jurnalis,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, para peserta diklat juga menyampaikan harapan-harapannya setelah acara diklat tersebut usai, “semoga ilmu yang sudah didapat bisa bermanfaat bagi jurnalis-jurnalis muda UMY, dan pelatihan selanjutnya bisa lebih baik lagi,” kata Nurjannah Awaliyah mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UMY.

Harapan yang senada juga disampaikan oleh Angger Cahyaning Tyas Asih mahasiswi HI UMY, “setelah acara diklat ini selesai, pastinya saya ingin ilmu yang sudah saya dapatkan dari acara ini dapat bermanfaat dan diaplikasikan dengan baik,” kata Tyas.

Sementara itu, mahasiswi KPI, Ilmiyanti menambahkan harapannya pada Nuansa, “mudah-mudahan saya bisa bertahan dan mempertahankan Nuansa bersama teman-teman jurnalis lainnya dengan penuh kesolidan,” katanya lagi.

Selasa, 03 Juli 2012

Tulisan Beritaku Dimuat Di Media Online…


Nggak nyangka..benar-benar nggak nyangka. Tulisan berita tentang Langgam Jawa yang kemarin aku buat ditemani sedikit rasa kantuk, ternyata dimuat dibeberapa media berita online.
Mungkin ini salah satu keuntungannya aku berada di biro humas UMY. Meski hari pertama aku kaget dan sedikit syok mungkin. Sebab, baru hari pertama sudah disuruh untuk membuat berita. Memang sih, di bangku kuliah aku sudah mendapatkan materi kulih tentang teknik reportase, penulisan berita, penataan surat kabar, editing dan formatologi, tapi tetap saja aku masih kaget. Mungkin karena jangka waktu atau deadline pengumpulan beritanya berbeda, jadi sedikit membuatku syok. Jika di kuliah deadline berita itu 1 minggu, tapi kalau di biro humas ya 1 hari itu juga..
Tapi dari sini aku ternyata bisa belajar, bagaimana aku harus bisa menyelesaikan tulisan berita yang ditugaskn untuk selesai pada hari itu juga. Rasa kantuk, mandek mau nulis apa lagi, perut keroncongan, merasa kurang informasi pendukung berita, semua itulah yang aku rasakan sejak hari pertama aku bergabung di biro humas.
Namun, semoga aku bisa terus belajar agar terus bisa melakukan yang terbaik. Tulisan beritaku yang dimuat diberbagai media berita online, judul tulisannya salah satunya adalah “Langgam Jawa Ternyata Efektif Turunkan Nyeri dan Kecemasan”, judul ini yang dimuat di www.suaramerdeka.com
Judul lainnya meski beda, tapi inti dan isi dari beritanya sama. Bagi kawan-kawan dan sahabatku yang ingin tahu isi beritanya silahkan cari aja di mbah google dengan keyword berita Langgam Jawa. InsyaAllah nanti akan muncul macam-macam judul dari media online yang berbeda.
Alhamdulillah…ternyata aku bisa..! ^_^

Sabtu, 28 April 2012

Feature "Di Balik Senyuman Maryanto"


“Mari..mari...hati..hati…” empat kata khas disertai senyuman yang selalu terlontar dari Maryanto, 48 tahun, saat membalas sapaan orang-orang yang melintas didepannya, sambil menggerakkan pergelangan tangannya maju mundur, menghaluskan gula merah, campuran air dan buah asem serta cabe. Pekerjaan semacam ini sudah ia lakukan sejak tiga puluh satu tahun yang lalu. Semenjak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) masih memiliki satu kampus yang terletak di Jl. HOS Cokroaminoto 17 Wirobrajan, Yogyakarta.
Maryanto memulai pekerjaannya sebagai penjual Lutis sejak UMY baru pertama kali berdiri. Ia menjajakan jualannya di depan Masjid Amal Mulia. Namun ketika UMY berpindah tempat dan berpusat di Bantul, Maryanto masih berjualan di Wirobrajan. Barulah ketika asrama UMY, University Resident (UNIRES) berdiri, dia berpindah tempat dan mulai berjualan di depan UNIRES Putri.  
Kehidupan Maryanto nyatanya tidak sebanding dengan perkembangan UMY yang mulai tumbuh menjadi sebuah Universitas ternama di Yogyakarta. Meski ia hampir menjalani separuh hidupnya bersamaan dengan berkembanngya UMY. Namun hingga kini kondisinya masih belum semapan UMY.
Maryanto mulai berjualan Lutis sejak harganya masih Rp. 100,-. Barulah setelah berakhirnya masa kepemimpinan Suharto, harga Lutis yang dia jual bertahap naik menjadi Rp. 500,- , Rp. 1.500,- , Rp. 2.000,- , Rp. 2.500,- , Rp. 3.000,- dan sekarang menjadi Rp. 3.500,-. Harga yang cukup rendah bila dibandingkan dengan harga-harga kebutuhan pokok saat ini.
Istri Maryanto hanya bisa membantunya dengan menjadi penjahit, akan tetapi hal itu pun tidak dapat dilakukan secara maksimal oleh istrinya. Karena istrinya masih harus mengurus anak-anaknya yang masih duduk di kelas 2 SMP dan kelas 2 SD. “Jadi gitu! Ya..kalau dua-duanya sama-sama mencari uang nanti anak yang kalah. Nggak pernah TPA, nggak mau belajar dan kalah sama TV, itu pasti,” ujar Maryanto sambil mengiris-iris buah nanas.   
Sebagai penjual Lutis, Maryanto dan keluarganya yang saat ini tinggal di Dusun Ngebel, Tamantirto, Kasihan-Bantul, memang tidak memiliki pelanggan tetap yang bisa membeli jualannya setiap hari. Selain itu, bila musim hujan datang pembelinya pun akan berkurang, padahal kebutuhan rumah tangga harus tetap ia penuhi. Oleh karena itu, di saat seperti itu ia terus mencari siasat dan memutar otaknya agar pendapatan bisa kembali stabil.
Langkah atau jalan yang dia ambil ketika mengalami masa-masa sulit seperti itu biasanya adalah dengan tidak mengandalkan pendapatan dari satu titik (menjual Lutis). Ia akan menjualkan dan menawarkan makanan lain pada pembeli, seperti dengan menjual roti bakar, bakpao, es kelapa muda, dan lainnya.
Dengan begitu, dia dapat menjualkan dua jenis makanan berbeda pada pembeli. Akan tetapi, bila waktu pengambilan rapot sekolah tiba, dana dari penjualan makanan selain Lutis itu akan habis untuk membayar tunggakan sekolah. Begitulah selalu, dan ia pun akan kembali mengumpulkan dana untuk menjualkan makanan lain sebagai tambahan dari menjual Lutis.
Penghasilan perhari yang ia dapatkan pun terkadang tidak sebanding dengan harga kebutuhan pokok. “Kalau sekarang bilang begitu susah, masalahnya sekarang harga gula merah mahal, bahan-bahan lutisnya juga mahal, tapi yang penting kita bisa muter, jalan, dan kondisi keluarga bisa tercukupi, walaupun yah..terseok-seok juga,” ungkap Maryanto sambil tersenyum.
Walaupun kebutuhan keluarga Maryanto terkadang tidak bisa tercukupi dengan baik, namun Maryanto masih tetap mensyukuri keadaannya dan keluarga kecilnya. “Yah..namanya juga jualan, kadang laku kadang nggak. Tetapi ya, kita kan harus selalu mensyukuri nikmat yang ada, janji Allah manakala kita selalu mensyukuri nikmat Allah, Allah akan melipatgandakan, kan begitu,” ungkap Maryanto lagi masih dengan senyum dan semangatnya  mencari rizki.
Memang benar apa yang dikatakan Maryanto, pernyataannya jelas-jelas dapat kita temui dalam ayat al-Qur’an Surah Ibrohim ayat 7 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.”
Ketika diri kita sudah terbiasa bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah, maka diri kita pun akan terlatih untuk senantiasa bertawakkal dan berserah diri pada Allah. Hingga dengan begitu “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Selasa, 27 Maret 2012

Feature


Kemudahan Di Balik Penderitaan
“Udah, kamu itu pulang aja, sekolah di rumah aja, mamak ini udah nggak punya duit!” ungkap Pratifi mengingat dan menirukan nada bicara ibunya. Gadis berumur 18 tahun ini adalah salah seorang dari tiga orang mahasisiwa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mendapatkan full beasiswa di Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum.
Kehidupan keluarga Pratifi mungkin tidak semujur kehidupannya dalam dunia pendidikan. Ibunya dulu adalah seorang pegawai pabrik di PT. Tekstil Bandung. Namun, saat ini ibunya hanya bekerja sebagai pedagang jajanan Sekolah-sekolah Dasar di wilayah Kulonprogo Yogyakarta.
Sedangkan ayahnya telah meninggal sejak ia masih kelas satu SD. “Pertama kali saya masuk SD pada hari senin tahun 1999, ayah saya mengalami kecelakaan, dan pada hari kamisnya ayah saya meninggal,” kenang Pratifi dengan mata berkaca-kaca.
Sejak saat itu kehidupan pun mereka jalani hanya berdua. Antara ibu dan anaknya. Suka duka, susah senang menjalani dan menghadapi kerasnya hidup, mereka rasakan bersama. Terlebih lagi ketika Pratifi masih tetap ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, namun terbentur dengan faktor ekonomi keluarga yang kurang mendukung.
Hal tersebut ia rasakan saat ia duduk dibangku kelas tiga SMP Mu’allimat Yogyakarta. Ia ingin melanjutkan pendidikannya di Mu’allimat sampai kelas tiga SMA. Namun karena Mu’allimat itu adalah sekolah swasta dan juga memiliki asrama sendiri, hingga biaya yang dibutuhkan pun juga cukup tinggi. Hal ini menjadikan Pratifi dan ibunya harus berpikir ulang.
Akan tetapi, karena kemantapan hati dan keyakinannya, Pratifi tetap tidak ingin meninggalkan Mu’allimat meski ibunya membujuknya untuk melanjutkan sekolah di rumahnya. Keinginan Pratifi ini ternyata terjawab dengan sempurna. Salah seorang kakak kelasnya yang merupakan keponakan dari pimpinan salah satu Panti Asuhan di Yogyakarta, menawarkan padanya untuk tinggal di panti tersebut.
“Kamu mau nggak tinggal di panti? Nanti untuk biaya sekolah, buku-buku dan keperluan lainnya akan dibayarkan oleh pihak panti, tapi syaratnya kamu harus tinggal di panti,” ungkap Pratifi, mengingat kata-kata kakak kelasnya. Dan dengan segera pula Pratifi menerima tawaran kakak kelasnya. Di samping karena ia berpikir bahwa tinggal di asrama lebih baik daripada hidup di luar, ia menerima tawaran itu juga karena faktor ekonomi, hingga dengan begitu ia juga tidak akan membebani ibunya.
Keberuntungan yang didapatnya ternyata tidak berhenti sampai disini. Saat ada pihak UMY yang datang ke panti tempat dia tinggal, mereka menawarkan adanya beasiswa dari Kedokteran UMY pada para pelajar SMA jurusan IPA yang tinggal di panti asuhan Muhammadiyah.
Kesempatan ini tidak dibuang sia-sia oleh Pratifi. Ia mengerahkan seluruh tenaga, kemampuan dan do’a agar bisa menjadi orang yang mendapatkan beasiswa itu. Meski kadang rasa pesimis hadir dalam hatinya karena ada temannya yang tinggal di panti yang sama dengannya dan lebih pintar darinya ikut serta dalam seleksi penerima beasiswa itu. Akan tetapi Pratifi tetap berusaha.
Pada hari pengumuman penerima beasiswa, Pratifi mengira bahwa dia tidak akan berhasil. Namun, kenyataan berkata lain. Pratifi lulus dalam seleksi tersebut dan mendapatkan full beasiswa sampai ia KOAS dari Kedokteran UMY. Dan ia pun bisa tinggal di asrama UMY “University Resident” (UNIRES) dengan gratis.
Segala kemudahan dan keberuntungan yang didapat Pratifi ini tidak membuatnya menjadi seseorang yang bersikap berlebihan. Ia tetap menjadi seseorang yang bersahaja dengan tidak mengikuti gaya hidup teman-temannya yang kebanyakan glamour. Akan tetapi ia justru merasa bingung dengan segala yang telah menimpa dan diterimanya.
“Perasaan saya, Alhamdulillah, senang… tapi saya juga bingung, kok bisa saya yang mendapatkan hal semacam itu?” ungkap Pratifi masih dalam raut wajah bingung.
Tidak akan ada suatu hal yang mengherankan lagi, jika kita mau melihat kembali kedalam Al-Quran. Rezeki, kemudahan, kecukupan, kelapangan, pemecahan permasalahan, semuanya telah Allah janjikan dalam Al-Quran akan kita dapatkan. Hanya saja, syarat dari semua itu adalah dengan cara kita bertawakal dan benar-benar menyerahkan segala urusan yang telah kita usahakan hanya kepada Allah.
Ketika kita telah bisa menjadikan diri kita hanya bertawakal kepada Allah, maka yang akan kita dapati adalah, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (Ath-Thalaq:2) “dan Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaq:3) “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (Ath-Thalaq:4)