Sekolah
Immawati Mendapat Materi Gender
Sakinatudh
Dhuhuriyah
YOGYAKARTA
– Hari pertama Sekolah Immawati yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
(IMM) Cabang AR Fakhruddin Kota Yogyakarta membahas materi tentang ‘Kosep Gender
dan Pengarusutamaan Gender.’ Pengurus Sekolah Immawati mengundang Ane
Permatasari, Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) UMY sebagai pemateri utamanya.
“Banyak
orang yang salah kaprah tentang arti gender, mereka mengartikan gender sebagai
sebuah keharusan yang tertanam dalam diri laki-laki atau perempuan yang tidak
bisa diubah. Anggapan bahwa seorang perempuan meski dia telah menuntut ilmu
hingga perguruan tinggi, namun ujung-ujungnya dia pasti akan ke dapur juga
(mengurus semua pekerjaan rumah tangga,red) masih sering kita temui dalam
kehidupan sehari-hari,” kata Ane Permatasari, Senin (17/10)
Padahal,
lanjutnya, gender itu sebenarnya adalah sebuah konsep tentang peran dan
tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang dibentuk hubungan sosial budaya dan
dapat diubah. Jadi, permasalahan tentang perbedaan peran sosial antara
perempuan dan laki-laki saat ini, merupakan hasil kebudayaan di mana mereka tinggal. Hasil dari
kebudayaan sudah pasti memungkinkan untuk berubah, karena hal itu merupakan
sesuatu yang berasal dari kesepakatan manusia.
“Anggapan bahwa perempuan itu lemah lembut, sopan, emosional, irasional,
dan pasif, sedangkan laki-laki itu agresif, kuat, rasional, tidak emosional,
berani dan aktif, itu semua adalah hasil budaya yang bisa berubah. Adapun jenis
kelamin, perempuan bisa hamil, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki
tidak itu semua adalah kodrat. Itulah sebenarnya yang membedakan antara gender
dengan seks. Dan kodrat sudah jelas tidak bisa diubah, karena hal itu pemberian
Tuhan kepada makhluk-Nya,” jelasnya.
Ane
Permatasari mengibarat seekor burung yang patah satu salah sayapnya maka
burung itu tidak akan bisa lagi untuk terbang. “Begitu pula dengan perempuan di
negeri kita, jika hanya salah satu pihak (laki-laki, red) saja yang diuntungkan
sedangkan yang lain (perempuan,red) tidak, maka nasib kita sama dengan seeokor
burung yang sayapnya patah itu,” imbuh Ane Permatasri.
Sekolah Immawati ini merupakan program kerja baru yang dibuat pimpinan IMM
cabang AR Fahruddin Kota Yogyakarta untuk para kader perempuannya atau yang
lebih dikenal dengan sebutan Immawati. Salah satu faktor kenapa Sekolah
Immawati ini ada, adalah untuk menumbuhkan kesadaran gender di kalangan kader
IMM sendiri,” kata Ketua Bidang Immawati IMM cabang ARFakhruddin, Vivin
Permatasri, Senin (24/10). n
berita ini ditulis dalam rangka pemenuhan tugas kuliah, & berita ini juga sudah di koreksi oleh dosen pengampu mata kuliah Teknik Reportase.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar