Sabtu, 28 April 2012

Feature "Di Balik Senyuman Maryanto"


“Mari..mari...hati..hati…” empat kata khas disertai senyuman yang selalu terlontar dari Maryanto, 48 tahun, saat membalas sapaan orang-orang yang melintas didepannya, sambil menggerakkan pergelangan tangannya maju mundur, menghaluskan gula merah, campuran air dan buah asem serta cabe. Pekerjaan semacam ini sudah ia lakukan sejak tiga puluh satu tahun yang lalu. Semenjak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) masih memiliki satu kampus yang terletak di Jl. HOS Cokroaminoto 17 Wirobrajan, Yogyakarta.
Maryanto memulai pekerjaannya sebagai penjual Lutis sejak UMY baru pertama kali berdiri. Ia menjajakan jualannya di depan Masjid Amal Mulia. Namun ketika UMY berpindah tempat dan berpusat di Bantul, Maryanto masih berjualan di Wirobrajan. Barulah ketika asrama UMY, University Resident (UNIRES) berdiri, dia berpindah tempat dan mulai berjualan di depan UNIRES Putri.  
Kehidupan Maryanto nyatanya tidak sebanding dengan perkembangan UMY yang mulai tumbuh menjadi sebuah Universitas ternama di Yogyakarta. Meski ia hampir menjalani separuh hidupnya bersamaan dengan berkembanngya UMY. Namun hingga kini kondisinya masih belum semapan UMY.
Maryanto mulai berjualan Lutis sejak harganya masih Rp. 100,-. Barulah setelah berakhirnya masa kepemimpinan Suharto, harga Lutis yang dia jual bertahap naik menjadi Rp. 500,- , Rp. 1.500,- , Rp. 2.000,- , Rp. 2.500,- , Rp. 3.000,- dan sekarang menjadi Rp. 3.500,-. Harga yang cukup rendah bila dibandingkan dengan harga-harga kebutuhan pokok saat ini.
Istri Maryanto hanya bisa membantunya dengan menjadi penjahit, akan tetapi hal itu pun tidak dapat dilakukan secara maksimal oleh istrinya. Karena istrinya masih harus mengurus anak-anaknya yang masih duduk di kelas 2 SMP dan kelas 2 SD. “Jadi gitu! Ya..kalau dua-duanya sama-sama mencari uang nanti anak yang kalah. Nggak pernah TPA, nggak mau belajar dan kalah sama TV, itu pasti,” ujar Maryanto sambil mengiris-iris buah nanas.   
Sebagai penjual Lutis, Maryanto dan keluarganya yang saat ini tinggal di Dusun Ngebel, Tamantirto, Kasihan-Bantul, memang tidak memiliki pelanggan tetap yang bisa membeli jualannya setiap hari. Selain itu, bila musim hujan datang pembelinya pun akan berkurang, padahal kebutuhan rumah tangga harus tetap ia penuhi. Oleh karena itu, di saat seperti itu ia terus mencari siasat dan memutar otaknya agar pendapatan bisa kembali stabil.
Langkah atau jalan yang dia ambil ketika mengalami masa-masa sulit seperti itu biasanya adalah dengan tidak mengandalkan pendapatan dari satu titik (menjual Lutis). Ia akan menjualkan dan menawarkan makanan lain pada pembeli, seperti dengan menjual roti bakar, bakpao, es kelapa muda, dan lainnya.
Dengan begitu, dia dapat menjualkan dua jenis makanan berbeda pada pembeli. Akan tetapi, bila waktu pengambilan rapot sekolah tiba, dana dari penjualan makanan selain Lutis itu akan habis untuk membayar tunggakan sekolah. Begitulah selalu, dan ia pun akan kembali mengumpulkan dana untuk menjualkan makanan lain sebagai tambahan dari menjual Lutis.
Penghasilan perhari yang ia dapatkan pun terkadang tidak sebanding dengan harga kebutuhan pokok. “Kalau sekarang bilang begitu susah, masalahnya sekarang harga gula merah mahal, bahan-bahan lutisnya juga mahal, tapi yang penting kita bisa muter, jalan, dan kondisi keluarga bisa tercukupi, walaupun yah..terseok-seok juga,” ungkap Maryanto sambil tersenyum.
Walaupun kebutuhan keluarga Maryanto terkadang tidak bisa tercukupi dengan baik, namun Maryanto masih tetap mensyukuri keadaannya dan keluarga kecilnya. “Yah..namanya juga jualan, kadang laku kadang nggak. Tetapi ya, kita kan harus selalu mensyukuri nikmat yang ada, janji Allah manakala kita selalu mensyukuri nikmat Allah, Allah akan melipatgandakan, kan begitu,” ungkap Maryanto lagi masih dengan senyum dan semangatnya  mencari rizki.
Memang benar apa yang dikatakan Maryanto, pernyataannya jelas-jelas dapat kita temui dalam ayat al-Qur’an Surah Ibrohim ayat 7 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.”
Ketika diri kita sudah terbiasa bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah, maka diri kita pun akan terlatih untuk senantiasa bertawakkal dan berserah diri pada Allah. Hingga dengan begitu “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

2 komentar:

  1. nanti kenalin sama Pak Maryanto nya ya mba...hehe. Insyaallah nanti saya di Unires Putri. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah,,,okeee.,,,, nanti tak kenalin dah sama pak Maryantonya...
      udah ketrima di UMY ya?! jurusan apa nih?

      Hapus