“Mari..mari...hati..hati…” empat kata khas disertai senyuman yang
selalu terlontar dari Maryanto, 48 tahun, saat membalas sapaan orang-orang yang
melintas didepannya, sambil menggerakkan pergelangan tangannya maju mundur, menghaluskan
gula merah, campuran air dan buah asem serta cabe. Pekerjaan semacam ini sudah
ia lakukan sejak tiga puluh satu tahun yang lalu. Semenjak Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) masih memiliki satu kampus yang terletak di Jl.
HOS Cokroaminoto 17 Wirobrajan, Yogyakarta.
Maryanto memulai pekerjaannya sebagai penjual Lutis sejak UMY baru
pertama kali berdiri. Ia menjajakan jualannya di depan Masjid Amal Mulia. Namun
ketika UMY berpindah tempat dan berpusat di Bantul, Maryanto masih berjualan di
Wirobrajan. Barulah ketika asrama UMY, University Resident (UNIRES) berdiri,
dia berpindah tempat dan mulai berjualan di depan UNIRES Putri.
Kehidupan Maryanto nyatanya tidak sebanding dengan perkembangan UMY
yang mulai tumbuh menjadi sebuah Universitas ternama di Yogyakarta. Meski ia
hampir menjalani separuh hidupnya bersamaan dengan berkembanngya UMY. Namun
hingga kini kondisinya masih belum semapan UMY.
Maryanto mulai berjualan Lutis sejak harganya masih Rp. 100,-.
Barulah setelah berakhirnya masa kepemimpinan Suharto, harga Lutis yang dia
jual bertahap naik menjadi Rp. 500,- , Rp. 1.500,- , Rp. 2.000,- , Rp. 2.500,-
, Rp. 3.000,- dan sekarang menjadi Rp. 3.500,-. Harga yang cukup rendah bila
dibandingkan dengan harga-harga kebutuhan pokok saat ini.
Istri Maryanto hanya bisa membantunya dengan menjadi penjahit, akan
tetapi hal itu pun tidak dapat dilakukan secara maksimal oleh istrinya. Karena
istrinya masih harus mengurus anak-anaknya yang masih duduk di kelas 2 SMP dan
kelas 2 SD. “Jadi gitu! Ya..kalau dua-duanya sama-sama mencari uang nanti anak
yang kalah. Nggak pernah TPA, nggak mau belajar dan kalah sama
TV, itu pasti,” ujar Maryanto sambil mengiris-iris buah nanas.
Sebagai penjual Lutis, Maryanto dan keluarganya yang saat ini
tinggal di Dusun Ngebel, Tamantirto, Kasihan-Bantul, memang tidak memiliki
pelanggan tetap yang bisa membeli jualannya setiap hari. Selain itu, bila musim
hujan datang pembelinya pun akan berkurang, padahal kebutuhan rumah tangga
harus tetap ia penuhi. Oleh karena itu, di saat seperti itu ia terus mencari
siasat dan memutar otaknya agar pendapatan bisa kembali stabil.
Langkah atau jalan yang dia ambil ketika mengalami masa-masa sulit
seperti itu biasanya adalah dengan tidak mengandalkan pendapatan dari satu
titik (menjual Lutis). Ia akan menjualkan dan menawarkan makanan lain pada
pembeli, seperti dengan menjual roti bakar, bakpao, es kelapa muda, dan
lainnya.
Dengan begitu, dia dapat menjualkan dua jenis makanan berbeda pada
pembeli. Akan tetapi, bila waktu pengambilan rapot sekolah tiba, dana dari
penjualan makanan selain Lutis itu akan habis untuk membayar tunggakan sekolah.
Begitulah selalu, dan ia pun akan kembali mengumpulkan dana untuk menjualkan
makanan lain sebagai tambahan dari menjual Lutis.
Penghasilan perhari yang ia dapatkan pun terkadang tidak sebanding
dengan harga kebutuhan pokok. “Kalau sekarang bilang begitu susah, masalahnya
sekarang harga gula merah mahal, bahan-bahan lutisnya juga mahal, tapi yang
penting kita bisa muter, jalan, dan kondisi keluarga bisa tercukupi, walaupun
yah..terseok-seok juga,” ungkap Maryanto sambil tersenyum.
Walaupun kebutuhan keluarga Maryanto terkadang tidak bisa tercukupi
dengan baik, namun Maryanto masih tetap mensyukuri keadaannya dan keluarga
kecilnya. “Yah..namanya juga jualan, kadang laku kadang nggak. Tetapi
ya, kita kan harus selalu mensyukuri nikmat yang ada, janji Allah manakala kita
selalu mensyukuri nikmat Allah, Allah akan melipatgandakan, kan begitu,” ungkap
Maryanto lagi masih dengan senyum dan semangatnya mencari rizki.
Memang benar apa yang dikatakan Maryanto, pernyataannya jelas-jelas
dapat kita temui dalam ayat al-Qur’an Surah Ibrohim ayat 7 “Dan (ingatlah)
ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan
menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
pasti adzab-Ku sangat berat.”
Ketika diri kita sudah terbiasa bersyukur dengan segala nikmat yang
telah diberikan Allah, maka diri kita pun akan terlatih untuk senantiasa
bertawakkal dan berserah diri pada Allah. Hingga dengan begitu “Barang siapa
bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan
Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa
bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS.
Ath-Thalaq : 2-3)