Senin, 30 April 2012

Tentang Jurnalistik


Jurnalistik berhubungan erat dengan wawancara. Setelah pembahasan tentang wawancara beberapa waktu yang lalu, saat ini akan coba saya tambahkan sedikit tentang wawancara dan penulisan berita. Adapun wawancara itu terbagi dalam beberapa macam, diantaranya :
1.       Wawancara sosok pribadi
2.       Wawancara berita
3.       Wawancara jalanan
4.       Wawancara sambil lalu
5.       Wawancara telepon
6.       Wawancara tertulis
7.       Wawancara kelompok

Setelah seorang jurnalis melakukan wawancara, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menuliskan hasil wawancaranya dalam bentuk berita. Menulis berita tidak hanya asal menuliskan, namun juga ada teknik-teknik penulisannya. Diantara teknik penulisan berita tersebut ialah:
*      Menentukan sudut pandang (engel)
*      Menggunakan pola penulisan Piramida Terbalik
*      Menggunakan konsep 5 W 1 H
*      Pola pedoman tulisan menggunakan lead

Dalam pola penulisan Piramida Terbalik itu seharusnya:
*      Wartawan tidak memasukkan pendapat pribadi dalam berita yang ditulis
*      Wartawan dituntut untuk bersikap jujur
*      Kesimpulan ditulis di awal paragraf.

Adapun maksud dari Piramida Terbalik itu diantaranya adalah untuk memudahkan pembaca untuk segera menemukan berita yang dianggap menarik.
Susunan berita itu terdiri dari:
*      Judul
*      Lead
*      Perangkai
*      Tubuh berita
*      Kaki berita
Judul berita itu diupayakan harus memenuhi beberapa unsur dibawah ini:
*      Profokatif (bisa menumbuhkan minat khalayak untuk membacanya)
*      Singkat dan padat (terdiri dari 3-5 kata)
*      Relevan (sesuai dengan susunan berita yang ingin disampaikan)
*      Fungsional (setiap kata dalam judul bersifat mandiri dan memiliki arti yang tegas dan jelas.
*      Formal
*      Representatif (mencerminkan teras berita/lead)

Pada paragraf pertama lead atau teras berita merupakan paragraf yang memuat fakta atau informasi terpenting dari keseluruhan berita. Lead atau teras berita diupayakan terdiri dari 4-30 kata dan harus mengandung unsur-unsur :
·         Atraktif                 : mampu membagkitkan minat baca pada khalayak
·         Introduktif            : harus bisa menyatakan pokok persoalan yang dikupas dengan tegas dan jelas
·         Korelatif               : harus bisa membuka jalan bagi kemunculan kalimat untuk paragaraf kedua dan seterusnya.
·         Kredibilitas          : mencerminkan bobot akademis reporter dan media massanya


Sabtu, 28 April 2012

Feature "Di Balik Senyuman Maryanto"


“Mari..mari...hati..hati…” empat kata khas disertai senyuman yang selalu terlontar dari Maryanto, 48 tahun, saat membalas sapaan orang-orang yang melintas didepannya, sambil menggerakkan pergelangan tangannya maju mundur, menghaluskan gula merah, campuran air dan buah asem serta cabe. Pekerjaan semacam ini sudah ia lakukan sejak tiga puluh satu tahun yang lalu. Semenjak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) masih memiliki satu kampus yang terletak di Jl. HOS Cokroaminoto 17 Wirobrajan, Yogyakarta.
Maryanto memulai pekerjaannya sebagai penjual Lutis sejak UMY baru pertama kali berdiri. Ia menjajakan jualannya di depan Masjid Amal Mulia. Namun ketika UMY berpindah tempat dan berpusat di Bantul, Maryanto masih berjualan di Wirobrajan. Barulah ketika asrama UMY, University Resident (UNIRES) berdiri, dia berpindah tempat dan mulai berjualan di depan UNIRES Putri.  
Kehidupan Maryanto nyatanya tidak sebanding dengan perkembangan UMY yang mulai tumbuh menjadi sebuah Universitas ternama di Yogyakarta. Meski ia hampir menjalani separuh hidupnya bersamaan dengan berkembanngya UMY. Namun hingga kini kondisinya masih belum semapan UMY.
Maryanto mulai berjualan Lutis sejak harganya masih Rp. 100,-. Barulah setelah berakhirnya masa kepemimpinan Suharto, harga Lutis yang dia jual bertahap naik menjadi Rp. 500,- , Rp. 1.500,- , Rp. 2.000,- , Rp. 2.500,- , Rp. 3.000,- dan sekarang menjadi Rp. 3.500,-. Harga yang cukup rendah bila dibandingkan dengan harga-harga kebutuhan pokok saat ini.
Istri Maryanto hanya bisa membantunya dengan menjadi penjahit, akan tetapi hal itu pun tidak dapat dilakukan secara maksimal oleh istrinya. Karena istrinya masih harus mengurus anak-anaknya yang masih duduk di kelas 2 SMP dan kelas 2 SD. “Jadi gitu! Ya..kalau dua-duanya sama-sama mencari uang nanti anak yang kalah. Nggak pernah TPA, nggak mau belajar dan kalah sama TV, itu pasti,” ujar Maryanto sambil mengiris-iris buah nanas.   
Sebagai penjual Lutis, Maryanto dan keluarganya yang saat ini tinggal di Dusun Ngebel, Tamantirto, Kasihan-Bantul, memang tidak memiliki pelanggan tetap yang bisa membeli jualannya setiap hari. Selain itu, bila musim hujan datang pembelinya pun akan berkurang, padahal kebutuhan rumah tangga harus tetap ia penuhi. Oleh karena itu, di saat seperti itu ia terus mencari siasat dan memutar otaknya agar pendapatan bisa kembali stabil.
Langkah atau jalan yang dia ambil ketika mengalami masa-masa sulit seperti itu biasanya adalah dengan tidak mengandalkan pendapatan dari satu titik (menjual Lutis). Ia akan menjualkan dan menawarkan makanan lain pada pembeli, seperti dengan menjual roti bakar, bakpao, es kelapa muda, dan lainnya.
Dengan begitu, dia dapat menjualkan dua jenis makanan berbeda pada pembeli. Akan tetapi, bila waktu pengambilan rapot sekolah tiba, dana dari penjualan makanan selain Lutis itu akan habis untuk membayar tunggakan sekolah. Begitulah selalu, dan ia pun akan kembali mengumpulkan dana untuk menjualkan makanan lain sebagai tambahan dari menjual Lutis.
Penghasilan perhari yang ia dapatkan pun terkadang tidak sebanding dengan harga kebutuhan pokok. “Kalau sekarang bilang begitu susah, masalahnya sekarang harga gula merah mahal, bahan-bahan lutisnya juga mahal, tapi yang penting kita bisa muter, jalan, dan kondisi keluarga bisa tercukupi, walaupun yah..terseok-seok juga,” ungkap Maryanto sambil tersenyum.
Walaupun kebutuhan keluarga Maryanto terkadang tidak bisa tercukupi dengan baik, namun Maryanto masih tetap mensyukuri keadaannya dan keluarga kecilnya. “Yah..namanya juga jualan, kadang laku kadang nggak. Tetapi ya, kita kan harus selalu mensyukuri nikmat yang ada, janji Allah manakala kita selalu mensyukuri nikmat Allah, Allah akan melipatgandakan, kan begitu,” ungkap Maryanto lagi masih dengan senyum dan semangatnya  mencari rizki.
Memang benar apa yang dikatakan Maryanto, pernyataannya jelas-jelas dapat kita temui dalam ayat al-Qur’an Surah Ibrohim ayat 7 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.”
Ketika diri kita sudah terbiasa bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah, maka diri kita pun akan terlatih untuk senantiasa bertawakkal dan berserah diri pada Allah. Hingga dengan begitu “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Jumat, 27 April 2012

Berita 2


Sekolah Immawati Mendapat Materi Gender
Sakinatudh Dhuhuriyah

YOGYAKARTA – Hari pertama Sekolah Immawati yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang AR Fakhruddin Kota Yogyakarta membahas materi tentang ‘Kosep Gender dan Pengarusutamaan Gender.’  Pengurus Sekolah Immawati mengundang Ane Permatasari, Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) UMY sebagai pemateri utamanya.

“Banyak orang yang salah kaprah tentang arti gender, mereka mengartikan gender sebagai sebuah keharusan yang tertanam dalam diri laki-laki atau perempuan yang tidak bisa diubah. Anggapan bahwa seorang perempuan meski dia telah menuntut ilmu hingga perguruan tinggi, namun ujung-ujungnya dia pasti akan ke dapur juga (mengurus semua pekerjaan rumah tangga,red) masih sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ane Permatasari, Senin (17/10)

Padahal, lanjutnya, gender itu sebenarnya adalah sebuah konsep tentang peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang dibentuk hubungan sosial budaya dan dapat diubah. Jadi, permasalahan tentang perbedaan peran sosial antara perempuan dan laki-laki saat ini, merupakan hasil kebudayaan di mana mereka tinggal. Hasil dari kebudayaan sudah pasti memungkinkan untuk berubah, karena hal itu merupakan sesuatu yang berasal dari kesepakatan manusia.

“Anggapan bahwa perempuan itu lemah lembut, sopan, emosional, irasional, dan pasif, sedangkan laki-laki itu agresif, kuat, rasional, tidak emosional, berani dan aktif, itu semua adalah hasil budaya yang bisa berubah. Adapun jenis kelamin, perempuan bisa hamil, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki tidak itu semua adalah kodrat. Itulah sebenarnya yang membedakan antara gender dengan seks. Dan kodrat sudah jelas tidak bisa diubah, karena hal itu pemberian Tuhan kepada makhluk-Nya,” jelasnya.

Ane Permatasari mengibarat seekor burung yang patah satu salah sayapnya maka burung itu tidak akan bisa lagi untuk terbang. “Begitu pula dengan perempuan di negeri kita, jika hanya salah satu pihak (laki-laki, red) saja yang diuntungkan sedangkan yang lain (perempuan,red) tidak, maka nasib kita sama dengan seeokor burung yang sayapnya patah itu,” imbuh Ane Permatasri.

Sekolah Immawati ini merupakan program kerja baru yang dibuat pimpinan IMM cabang AR Fahruddin Kota Yogyakarta untuk para kader perempuannya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Immawati. Salah satu faktor kenapa Sekolah Immawati ini ada, adalah untuk menumbuhkan kesadaran gender di kalangan kader IMM sendiri,” kata Ketua Bidang Immawati IMM cabang ARFakhruddin, Vivin Permatasri, Senin (24/10). n 
berita ini ditulis dalam rangka pemenuhan tugas kuliah, & berita ini juga sudah di koreksi oleh dosen pengampu mata kuliah Teknik Reportase.



Selasa, 24 April 2012

kumpulan berita 1


 
IMM Adakan Acara Bedah Film Cin(T)a

YOGYAKARTA – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Abdul Razak Fakhruddin kota Yogyakarta, mengadakan nonton bareng dan bedah film “Cin(T)a”, Jum’at (16/12). Acara nonton bareng dan bedah film ini dilaksanakan di ruang sidang gedung AR. Fakhruddin B lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Acara ini dihadiri oleh kalangan mahasiswa UMY secara umum dan khususnya kader IMM dari UMY dan  STIKES Aisyiyah Yogyakarta.

Dalam rangkaian acara ini, Nurwanto, MA., M. Ed (Peneliti Pendidikan Islam dan Dosen Fakultas Agama Islam UMY) sebagai pembedah film menyatakan bahwa film-film yang beredar saat ini, memang memungkinkan untuk memuat unsur-unsur propaganda, baik itu mengenai agama atau kepercayaan, politik, atau hukum. Oleh sebab itu, beliau menyarankan untuk tidak serta merta secara langsung menerima dan membenarkan cerita atau substansi  yang disampaikan dalam sebuah film. Dan tindakan yang harus diambil oleh seorang muslim adalah dengan tetap mengkritisi segala sesuatu yang ditayangkan dalam sebuah film.
  
“Acara bedah film seperti ini bagus juga. Karena bisa memancing jiwa kritis kita sebagai mahasiswa. Kita juga diajak untuk mengambil nilai-nilai positif dan mengkritisi sebuah film, serta sebagai bahan renungan untuk kita,” ungkap Melawati, Kader IMM FAI UMY.

Sementara itu Rila, supervisor kegiatan ini mengungkapkan bahwa film yang dipilih untuk dibedah adalah film “Cin(T)a” karena film ini pernah mendapat penghargaan dari Eropa. Namun tujuan yang terpenting dari acara ini adalah meningkatkan nalar kristis peserta.