Rabu, 28 Maret 2012

Makalah Dakwah


Dakwah di Era Digital

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berkembangnya globalisasi di dunia ini baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya telah menjadikan kehidupan manusia mengalami alienasi , keterasingan pada diri sendiri atau pada perilaku sendiri, akibat pertemuan budaya-budaya yang tidak sepenuhnya terintegrasi dalam kepribadian umat manusia.
Selama masih ada manusia yang hidup di muka bumi ini, selama itu pula lah satu hal yang dinamakan Dakwah itu perlu ada bahkan wajib ada. Karena setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah, baik sebagai kelompok maupun individu, sesuai dengan kemampuan masing-masing, dalam segi ilmu, tenaga, dan daya.
Dengan derasnya arus globalisasi yang juga menimpa umat islam, pelaksanaan dakwah seperti mengejar layang-layang yang putus. Artinya hasil-hasil yang diperoleh dari dakwah selalu ketinggalan dibanding dengan maraknya kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi dalam masyarakat. Oleh sebab itu dibutuhkan sebuah konsep dakwah yang sesuai dengan perkembangan zaman, karena dakwah tidak hanya dilaksanakan berdasarkan tekstual tapi juga diperlukan cara dakwah secara kontesktual. Disinilah saya akan sedikit memaparkan dan membahas tentang Dakwah kontekstual dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan Al-Quran dan Hadits.









BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian
Secara etimologis kata dakwah ini berasal dari bahasa Arab yang memiliki akar kata دعا- يدع- دعوة yang berarti menyeru, memanggil, mengajak. Isim fa’ilnya (pelaku) adalah da’i داع) ) yang berarti pendakwah.
Dan secara terminologis dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat. Singkatnya, dakwah, seperti yang ditulis Abdul Karim Zaidan, adalah mengajak kepada agama Allah, yaitu Islam.
Kata “kontekstual” berasal dari “konteks” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung dua arti: 1) bagian sesuatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2) situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadian.(Tim Penyusun Kamus: 1989: 458). Dengan kata lain Kontekstual merupakan sesuatu yang sifatnya dinamis, uptudate dapat diterima, dipahami secara umum, relevan dengan situasi, tidak ketinggalan zaman, fleksibel, terbuka, dan dinamis dalam situasi dan kondisi apapun.
  1. Jalan Dakwah Rasulullah S.A.W
Muhammad bin Abdullah, sebuah nama yang ditulis dengan huruf yang bercahaya dalam jiwa orang-orang yang mengesakan Allah. Dialah orang terkemuka dan terhormat, orang yang disebut namanya di dalam Taurat dan Injil, orang yang dibantu Jibril membawa bendera kemuliaan, dan orang yang namanya menggema di kalangan Bani Abdi Manaf bin Qusay.
Dialah kebahagiaan dan kenikmatan untuk semua, ketika dia berkhutbah, mimbar pun terguncang, jiwa-jiwa terbangunkan, semangat terbakar, orang-orang yang mendengar akan tergerak, dan para pengkhutbah pun akan terheran-heran. Ketika dia bertutur, tuturannya membawa ke batas jiwa dan melewati tepian ruh. Ucapannya menyusup ke relung-relung hati. Kata-katanya membekas dalam lembaran ingatan sebagai ukiran yang indah dan menggaris dalam empedu hati. (‘Aidh Al-Qarni, 2008: 129)
Beliaulah Rasulullah s.a.w, sang pembawa risalah Ilahi. Selama dua puluh empat tahun beliau tidak pernah istirahat dan diam, tidak hidup untuk diri sendiri dan keluarga beliau. Beliau senantiasa bangkit untuk berdakwah kepada Allah, memanggul beban berat di pundaknya, tidak mengeluh dalam melaksanakan beban amanat yang besar di muka bumi ini, memikul beban kehidupan semua manusia, beban akidah, perjuangan, dan jihad, di berbagai medan.
Jika kita melihat kembali pada sejarah, dimana Rasulullah s.a.w masih hidup, tantangan dan cobaan dakwah yang beliau alami jauh lebih berat daripada dakwah kita di zaman ini. Berbagai tekanan ejekan,penghinaan, menjelek-jelekkan ajaran beliau, melawan Al-Quran dengan dongeng orang-orang dahulu, yang dilakukan orang kafir Quraisy demi menghentikan laju dakwah Rasulullah di sebarkan secara terang-terangan sejak permulaan tahun keempat kenabian. Tak pernah ada seorang da’i yang pernah dilempari batu hingga tumitnya berdarah, di taburi duri didepan rumah dan di jalan yang dilaluinya, dilempari isi perut seekor domba ketika sedang shalat, atau diletakkan kotoran unta ketika sedang sujud kepada Allah SWT. Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi kecuali pada Nabi Muhammad SAW. Namun, gangguan dan siksaan-siksaan seperti ini tidak begitu berarti bagi Rasulullah SAW, karena beliau memiliki kepribadian yang tidak ada duanya, berwibawa dan dihormati setiap orang, umum maupun khusus.(Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2010: 90)
Kesempurnaan jiwa dan kemuliaan akhlak beliau selalu tercermin dalam setiap detik kehidupannya. Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan ketika memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Beliau adalah orang yang paling tawadhu’ (merendahkan diri) dan paling jauh dari sifat sombong, orang yang paling adil, paling jujur perkataannya, paling aktif memenuhi janji dan menyambung tali persaudaraan, membaguskan yang bagus dan membenarkannya, memburukkan yang buruk dan melemahkannya, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji,dan tidak suka mencela. Beliau meninggalkan tiga perkara dari dirinya: riya’, banyak bicara dan membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau meninggalkan manusia dari tiga perkara: tidak mencela seseorang, tidak menghinanya dan tidak mencari-cari kesalahannya.
Secara umum Rasulullah SAW adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari tandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya, sampai-sampai Allah SWT berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau,
Dan sesunguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Sifat-sifat yang sempurna inilah yang membuat jiwa manusia merasa dekat dengan beliau, membuat hati mereka mencintai beliau, menempatkan beliau sebagai pimpinan yang menjadi tumpuan harapan hati. Bahkan orang-orang yang dulunya bersikap keras terhadap beliau berubah menjadi lemah lembut, hingga akhirnya manusia masuk ke dalam agam Allah secara berbondong-bondong. Inilah rahasia suksesnya dakwah Rasulullah SAW, dengan jerih payah disertai akhlak beliau yang mulia dalam berdakwah Islam dapat tersebar ke seantero dunia hingga saat ini.



  1. Prinsip-prinsip Dakwah
Untuk melaksanakan dakwah, Allah SWT telah memberikan petunjuk seperti tersebut dalam Alquran Surat An-Nahl ayat 125
ادع الى سبيل ربك با لحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم با لتى هي احسن
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan jalan yang lebih baik.” (An-Nahl : 125)
Seorang da’i yang mengajak manusia ke jalan Allah hendaknya menggunakan cara yang baik dan bijaksana. Bijaksana dalam artian mempertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapi. Berdakwah dengan bijaksana berarti seorang dai harus memperhatikan waktu, tempat,dan lingkungan masyarakat yang dihadapi. Berdakwah dengan hikmah, yakni harus dengan ilmu. Allah dan Rasul-Nya menyebut ilmu itu dengan sebutan hikmah, karena ilmu itu menyangkal kebatilan dan membantu manusia untuk mengikuti yang haq (kebenaran).
Seorang da’i harus mengetahui dan menguasai apa-apa yang diserukannya dan apa-apa yang dilarangnya sehingga tidak berbicara atas nama Allah tanpa berdasarkan ilmu. Namun, bersama ilmu itu pula harus disertaidengan pelajaran (nasihat) yang baik dan bantahan yang lebih baik saat di perlukan, karena sebagian orang ada yang hanya cukup dengan penjelasan kebenaran dan sebagian lagi ada yang tidak bereaksi dengan penjelasan tentang kebenaran sehingga perlu nasihat yang baik. Dan ada pula yang telah diliputi keraguan, untuk hal yang semacam ini perlu didebat (dibantah) dengan tujuan untuk membongkar keraguan tersebut. Maka sang da’i dalam menghadapi situasi seperti ini perlu menerangkan kebenaran disertai dalil-dalinya serta membantah keraguan tersebut dengan dalil-dalil syar’i. Dan dalam melakukan ini harus dengan perkataan yang baik, tutur kata yang halus dan lembut, tidak kasar dan tidak keras agar orang yang didakwahinya tidak antipati terhadap kebenaran dan tetap bertahan pada kebatilannya.
Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Mu’adz bin Jabal saat beliau mengutusnya ke Yaman,
Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka pelaksanaan lima kali shalat dalam sehari semalam. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari yang kaya untuk disalurkan kepada yang miskin di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari pesan Nabi SAW tersebut dapat kita ketahui bahwa dakwah dimulai dengan yang paling penting, lalu yang penting dengan memilih kesempatan, waktu dan tempat yang tepat dan sesuai untuk berdakwah. Adakalanya saat yang tepat adalah mendakwahinya di rumahnya dengan mengajaknya berbincang-bincang, adakalanya juga cara yang tepat adalah dengan mengajaknya berkunjung ke rumah seseorang agar didakwahi, adakalanya pula pada saat-saat yang lain. Namun yang jelas, seorang muslim yang berakal dan berpengetahuan akan mengetahui bagaimana bersikap dalam mengajak orang lain kepada kebenaran.
  1. Dakwah Kontekstual di Era Digital
Metode dakwah Rasulullah SAW pada awalnya dilakukan melalui pendekatan individual (personal approach) dengan mengumpulkan kaum kerabatnya di bukit Shafa. Kemudian berkembang melalui pen dekatan kolektif seperti yang dilakukan saat ber dakwah ke Thaif dan pada musim haji.
Dakwah kontekstual diartikan sebagai cara penyiaran Islam yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta problem yang mereka hadapi. Problem yang dihadapi oleh masyarakat tidak selalu tetap tetapi bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu.
Para penyiar Islam, seperti : dai, mubalig, ulama, kiai, ustad, guru agama, dosen agama, hendaknya selalu menyampaikan ajaran Islam yang ada relevansinya dengan problem-problem yang aktual. Ajaran Islam hendaknya difungsikan sebagai problem solving. Metode-metode sosialisasi dan internalisasi ajaran Islam hendaknya selalu dibahas secara mendalam agar lebih efektif.
Dan di abad ini dimana kita hidup saat ini adalah abad ke-21, dan saya menyebutnya sebagai abad atau era globalisasi dan era digital. Era globalisasi, yang telah menjadikan semua yang ada di muka bumi ini dapat terjangkau dan dapat kita temui dimana saja kita berada. Globalisme yang telah memasuki ranah-ranah kehidupan, baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, food, fun dan fasion, telah mempengaruhi gaya dan cara hidup masyarakat. Era digital, telah mulai merasuk dalam nafas hidup masyarakat. Semua serba bisa. Peralatan elektronik digital yang awalnya hanya dimiliki oleh kalangan atas, kini sudah mulai dimiliki oleh berbagai kalangan. Sampai penjual bakso dan siomay pun juga ikut merasakan dan memiliki peralatan canggih ini (red. HP). Dan internet yang mulai diminati dan menjadi kebutuhan dari mulai orang tua hingga anak-anak. Hal ini tidak terlepas dari dampak globalisasi yang telah merambah ke negara kita tercinta ini. Disinilah kita para da’i dan da’iyah hidup. Di zaman yang sudah semakin canggih dan modern.
Sejalan dengan perkembangan teknologi yang mengakibatkan perubahan tata nilai dan budaya manusia ke arah tata kehidupan yang bersifat rasional dan fungsional, pemanfaatan media untuk menyampaikan pesan kebajikan merupakan potensi penting dan langkah strategis yang harus mendapat perhatian proporsional. Dalam konteks Islam, informasi jelas mempunyai kedudukan yang sangat strategis, terutama dalam konteks dakwah Islamiyah sebagai upaya menyebarluaskan nilai-nilai religiusi kepada umat manusia. Informasi yang berkembang diharapkan tidak menciptakan dan menyebarkan informasi yang menyesatkan sehingga citra kebenaran menjadi menyimpang.
Sampaikanlah, walau hanya satu ayat,” demikian ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya suatu ketika. Ujaran yang sangat terkenal tersebut berintikan ajakan kepada para penganut agama Islam untuk senantiasa menyempatkan diri untuk berdakwah dan berbagi pengetahuan bagi sesama, kapanpun dan dimanapun.
Semangat dakwah yang disebut diatas; meskipun hanya satu ayat, merupakan satu bentuk “tanggung jawab moril” yang sangat mengakar di kalangan umat Islam. Segala daya dan upaya untuk melakukan dakwah terus dilakukan, hingga kini.Setelah beratus tahun berselang sejak dakwah lisan dikumandangkan oleh Rasulullah, pada masa kini dakwah telah menggunakan medium bit, binary dan digital. Dakwah dalam bentuk tulisan di buku, koran, majalah, tv dan radio mendapatkan komplementernya berupa text dan hypertext di Internet.
Internet adalah media dan sumber informasi yang paling canggih saat ini sebab teknologi ini menawarkan berbagai kemudahan, kecepatan, ketepatan akses dan kemampuan menyediakan berbagai kebutuhan informasi setiap orang, kapan saja, dimana saja dan pada tingkat apa saja. Internet sebagai sumber informasi memungkinkan semua orang untuk terus belajar seumur hidup, kapan dan dimanapun serta untuk keperluan apapun. Dan untuk kebutuhan belajar bagi setiap individu, Internet tidak hanya menyediakan fasilitas penelusuran informasi tetapi juga komunikasi.
Berdakwah merupakan kewajiban setiap manusia, setiap orang dalam berbagai profesi bisa melaksanakan da’wah. Sebab berda’wah dapat dilakukan dalam multidemiensi kehidupan. Sebagaimana telah diketahui bahwa dakwah Islam tidak hanya bi al-lisan (dengan ungkapan/kata-kata), melainkan juga bi al-kitab (sengan tulis-menulis), bi at-tadbir (manajemen/pengorganisasian) dan bi al-hal (aksi sosial). Seorang dai atau muballig yang baik tidak hanya menguasai materi dakwah, melainkan juga harus memahami budaya masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Berbicaralah kepada manusia menurut kadar kecerdasan mereka.” (HR. Muslim). Hal ini menunjukkan dan menuntut para da’i untuk bisa mengetahui dimana mereka berada, seperti apa mad’u mereka, dan bagaimana cara mereka menyampaikan dakwahnya kepada para mad’unya. Dengan demikian akan mempermudah da’i dalam memilih kata dan menemukan metode apa yang harus digunakan.
Dengan adanya globalisasi ini kompetisi akan semakin berat, sehingga kita perlu berlomba-lomba menguasai teknologi informasi serta mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, oleh karenanya penguasaan teknologi informasi mutlak diperlukan oleh umat Islam, karena hal itu merupakan salah satu cara paling efektif guna menyampaikan informasi yang sebenarnya mengenai agama Islam.
Setiap penuntut ilmu yang dianugerahi pemahaman oleh Allah dalam perkara agama dan setiap alim yang telah di bukakan akalnya oleh Allah, hendaknya memanfaatkan ilmu yang telah dianugerahkan kepadanya, memanfaatkan setiap kesempatan yang memungkinkan untuk berdakwah, sehingga dengan begitu ia bisa menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah, mengajarkan syari’at Allah kepada masyarakat, mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran, menerangkan kepada mereka hal-hal yang masih samar terhadap mereka di antara perkara-perkara yang diwajibkan atas mereka atau diharamkan Allah atas mereka.
Dalam Majalah Tabligh, Dakwah Khusus, Vol. 01/No. 12/Juli 2003 dituliskan tentang pemikiran Prof. Dr. H. M. Amien Rais,MA. dalam bukunya Moralitas Politik Muhammadiyah, yang menawarkan lima ‘Pekerjaan Rumah’ yang perlu diselesaikan, agar dakwah Islam di era informasi sekarang tetap relevan, efektif, dan produktif.
Pertama, perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru-juru dakwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.
Kedua, setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “Labda” ini akan dapat diketahui masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan dilakukan.
Ketiga, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik), bil-iqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. Yang jelas, actions,speak louder than word.
Keempat, media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan sekarang juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan dakwah Islam di tanah air.
Kelima, merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang. Anak-anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai. Mereka wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat ‘invasi’ nilai-nilai non islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di Indonesia. Bila anak-anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh (al-hususn al-hamidiyyah) dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.
uraian di atas, dapat diprediksi bahwa missi dan tantangan dakwah tidaklah pernah akan semakin ringan, melainkan akan semakin berat dan hebat bahkan semakin kompleks dan melelehkan. Oleh sebab itu, maka dakwah kita saat ini tidak hanya terbatas pada mimbar-mimbar saja, akan tetapi kita bisa berdakwah lewat media apa saja, dimana saja, dan kapan saja, dengan tetap berlandaskan pada metode dakwah Rasulullah SAW dan yang telah dijelaskan dalam AL-Quran.
ادع الى سبيل ربك با لحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم با لتى هي احسن
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan jalan yang lebih baik.” (An-Nahl : 125)
ومن احسن قولا ممن دعا الى الله وعمل صلحا وقال انني من المسلمين
Siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Fusshilat: 33)
من دعا الى لهدى كان له من الاجر مثل اجور من تبعه لا ينقص ذلك من اجورهم شيءا
Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahal seperti pahala orang-orang yang mengikuti (ajakan)nya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka.” (HR. Muslim)

BAB III
PENUTUP
Berdakwah harus dimulai dari diri sendiri, ketika diri kita sudah didakwahi dan berhasil maka berulah kita mendakwahi orang lain. Dan orang lain tersebut kita mulai dari orang-orang terdekat kita yakni, keluarga kita. Karena ketika Rasulullah SAW diperintah oleh Allah untuk berdakwah secara terang-terangan, pertama kali yang beliau dakwahi adalah keluarga dan kerabat terdekat.
Dan menghadapi tantangan dakwah masa kini yang semakin kompleks, maka salah satu alternatif yakni dengan berdakwah secara kontekstual, dengan menggunakan segala aspek yang mendukung dakwah akan tetap bisa terlaksana, baik itu dakwah melalui media, dan dunia maya seperti internet yang saat ini sedang membooming di semua kalangan masyarakat.
Dengan tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits, insyaallah dakwah kita akan berjalan lancar dan sesuai dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Karena lewat media inilah saat ini kita berdakwah dan berhadapan dengan para mad’u yang kompeten dalam bidang ini. Dan kita sebagai da’i seharusnya juga bisa menyamai dan menguasai media layaknya mereka yang sudah kompeten.












Daftar Pustaka
Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2010. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Al-Qarni, ‘Aidh. 2008. Laksana Nabi Muhammad SAW. Jogjakarta: Diva Press.
Al-Quran Tajwid dan Terjemahannya. Syamil Al-Quran
Fatwa-fatwa tentang Dakwah, Menyeru Manusia Ke Jalan Allah
Kamus digital Al-Mufid
Majalah Islam Ar-Risalah edisi 79 tahun VII
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka 1989





jurnalistik


TEORI PERS OTORITER

Sebagaimana telah kita ketahui, otoriter merupakan system atau gaya kepeminpinan yang menitik beratkan pada penguasa. Seperti halnya sebuah Negara, dalam Negara tersebut penguasa adalah pemerintah. Jika dikaitkan dengan pers, maka suatu pers yang menganut system otoriter hanya akan bergerak atas izin pemerintah dengan mengesampingkan hak-hak individu dalam berpendapat. Setiap individu pasti mempunyai argument dan opini dalam memaknai sesuatu, akan tetapi hal tersebut tidak bisa diungkapkan secara mudah tanpa adanya izin dari pemerintah yang berkuasa. Padahal, hak untuk memperoleh kebenaran adalah hak individu, tetapi dengan adanya pemerintah yang otoriter hak tersebut dibatasi sehingga indivudu tidak dapat memperoleh informasi kebenaran secara mutlak.
Dalam hal otoriter ini, penguasa seolah-olah menjadi yang paling benar dan tidak memiliki kesalahan, karena setiap kesalahan yang dilakukan tidak ada seorang atau lembaga yang bisa mempublikasikannya kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak akan mengetahuinya, kecuali bagi jurnalis yang berani menentang harus berani mengambil resiko. Sedangkan hal-hal yang bersifat positif akan dengan mudah sampai ketelinga masyarakat, karena seluruh media yang ada bertujuan untuk memenuhi kepentingan pemerintah.
Bagi penguasa otoriter keaneka ragaman dalam berpendapat dapat mengakibatkan konflik dan ketidakkesepakatan yang akibatnya sangat mengganggu dan bahkan merusak kepentingan pemerintah. Cara yang mudah untuk menyatukan keseragaman adalah dengan meminimalisir berita.
Hak-hak individu atau masyarakat, khususnya untuk bebas mengungkapkan, menyebarkan, dan mendapatkan informasi dari kebenaran fakta yang tidak mendukung dengan gerak pemerintahan akan dikenakan sanksi, akibatnya setiap seseorang yang ingin mengungkapkan sebuah berita atau membuat sebuah media harus mempunyai Surat Izin Penerbitan yang tentunya dalam pembuatan SIP tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan proses dan keyakinan yang kuat dalam melaksanakannya. Walaupun demikian, otoriter dalam pers mempunyai sisi positif, diantaranya :
Konflik dalam masyarakat cenderung berkurang karena adanya pengawasan hal-hal yang dianggap dapat menggoncangkan masyarakat.
Mudah membentuk penyeragaman/integritas dan konsensus yang diharapkan khususnya secara umum pada negara sedang membangun yang memerlukankestabilan.

Jurnalistik


JURNALISME DAKWAH

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran : 104)

Ada dua metode yang sering digunakan untuk berdakwah. Pertama, berdakwah dengan lisan (bil lisan) seperti berceramah, pengajian dan sebagainya. Kedua, dengan tulisan (bil qalam) atau disebut juga dengan dakwah bittadwin. Berdakwah dengan tulisan ini bisa melalui surat kabar, majalah, buletin atau brosur. Dakwah bil qalam sekarang bisa juga lewat media elektronika seperti internet, email dan lainnya.

Jurnalisme dakwah adalah jurnalis yang bergerak dibidang informasi dan teknonologi dalam kegiatasn penerbitan tulisan yang mengabdikan diri kepada nilai agama Islam. Wartawan sebagai sosok juru dakwah di bidang pers yakni mengembangkan dakwah bil qolam. Ia menjadi kholifah Allah di dunia media massa dengan memperjuangkan tegaknya nilai-nilai norma, etika dan syariat islam. Sedangkan jurnalistik dakwah masih belum banyak diminati baik di kalangan pes maupun mereka yang menekuni bidang informasi. Para jurnalis muda juga tidak tertarik dengan bidang jurnalistik dakwah ini.

Di kalangan masyarakat pers bidang jurnalistik dakwah memang belum populer. Media-media yang muncul di era informasi ini lebih tertarik dengan bidang politik dan hiburan yang berorientasi pada komersial. Para jurnalis muda terutama yang bekerja di televisi swasta lebih suka dengan bidang jurnalistik infotaimen ketimbang jurnalistik dakwah. Namun dalam tiga tahun terakhir ini muncul beberapa penerbitan seperti tabloid, majalah dan buletin yang bernuansa islami. Sehingga para wartawan atau penulis yang bergabung dengan media-media tersebut harus menekuni bidang jurnalistik dakwah.

Cara memperoleh berita juga sama dengan cara yang dilakukan oleh seorang wartawan yang bertanggung jawab dan profesional. Bedanya, seorang yang memilih profesi di bidang jurnalistik dakwah harus memahami agama Islam. Paling tidak ia harus memiliki buku-buku referensi tentang Islam. Para wartawan yang disebut juga sebagai penyambung lidah masyarakat dituntut untuk memiliki sifat-sifat kenabian yakni shidiq, amanah, tabligh, fathonah. Setidaknya ada lima peran media dakwah, baik di lingkungan kampus maupun nonkampus atau keduanya:

1. Sebagai Pendidik (Muaddib), yaitu melaksanakan fungsi edukasi yang Islami
2. Sebagai Pelurus Informasi (Musaddid). Setidaknya ada tiga hal yang harus diluruskan oleh para jurnalis Muslim. Pertama, informasi tentang ajaran dan umat Islam. Kedua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam. Ketiga, lebih dari itu jurnalis Muslim dituntut mampu menggali –melakukan investigative reporting– tentang kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia.
3. Sebagai Pembaharu (Mujaddid), yakni penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (reformisme Islam
4. Sebagai Pemersatu (Muwahid), yaitu harus mampu menjadi jembatan yang mempersatukan umat Islam
5. Sebagai Pejuang (Mujahid), yaitu pejuang-pembela Islam.



by: Lucky

Selasa, 27 Maret 2012

Feature


Kemudahan Di Balik Penderitaan
Udah, kamu itu pulang aja, sekolah di rumah aja, mamak ini udah nggak punya duit!” ungkap Pratifi mengingat dan menirukan nada bicara ibunya. Gadis berumur 18 tahun ini adalah salah seorang dari tiga orang mahasisiwa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mendapatkan full beasiswa di Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum.
Kehidupan keluarga Pratifi mungkin tidak semujur kehidupannya dalam dunia pendidikan. Ibunya dulu adalah seorang pegawai pabrik di PT. Tekstil Bandung. Namun, saat ini ibunya hanya bekerja sebagai pedagang jajanan Sekolah-sekolah Dasar di wilayah Kulonprogo Yogyakarta.
Sedangkan ayahnya telah meninggal sejak ia masih kelas satu SD. “Pertama kali saya masuk SD pada hari senin tahun 1999, ayah saya mengalami kecelakaan, dan pada hari kamisnya ayah saya meninggal,” kenang Pratifi dengan mata berkaca-kaca.
Sejak saat itu kehidupan pun mereka jalani hanya berdua. Antara ibu dan anaknya. Suka duka, susah senang menjalani dan menghadapi kerasnya hidup, mereka rasakan bersama. Terlebih lagi ketika Pratifi masih tetap ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, namun terbentur dengan faktor ekonomi keluarga yang kurang mendukung.
Hal tersebut ia rasakan saat ia duduk dibangku kelas tiga SMP Mu’allimat Yogyakarta. Ia ingin melanjutkan pendidikannya di Mu’allimat sampai kelas tiga SMA. Namun karena Mu’allimat itu adalah sekolah swasta dan juga memiliki asrama sendiri, hingga biaya yang dibutuhkan pun juga cukup tinggi. Hal ini menjadikan Pratifi dan ibunya harus berpikir ulang.
Akan tetapi, karena kemantapan hati dan keyakinannya, Pratifi tetap tidak ingin meninggalkan Mu’allimat meski ibunya membujuknya untuk melanjutkan sekolah di rumahnya. Keinginan Pratifi ini ternyata terjawab dengan sempurna. Salah seorang kakak kelasnya yang merupakan keponakan dari pimpinan salah satu Panti Asuhan di Yogyakarta, menawarkan padanya untuk tinggal di panti tersebut.
Kamu mau nggak tinggal di panti? Nanti untuk biaya sekolah, buku-buku dan keperluan lainnya akan dibayarkan oleh pihak panti, tapi syaratnya kamu harus tinggal di panti,” ungkap Pratifi, mengingat kata-kata kakak kelasnya. Dan dengan segera pula Pratifi menerima tawaran kakak kelasnya. Di samping karena ia berpikir bahwa tinggal di asrama lebih baik daripada hidup di luar, ia menerima tawaran itu juga karena faktor ekonomi, hingga dengan begitu ia juga tidak akan membebani ibunya.
Keberuntungan yang didapatnya ternyata tidak berhenti sampai disini. Saat ada pihak UMY yang datang ke panti tempat dia tinggal, mereka menawarkan adanya beasiswa dari Kedokteran UMY pada para pelajar SMA jurusan IPA yang tinggal di panti asuhan Muhammadiyah.
Kesempatan ini tidak dibuang sia-sia oleh Pratifi. Ia mengerahkan seluruh tenaga, kemampuan dan do’a agar bisa menjadi orang yang mendapatkan beasiswa itu. Meski kadang rasa pesimis hadir dalam hatinya karena ada temannya yang tinggal di panti yang sama dengannya dan lebih pintar darinya ikut serta dalam seleksi penerima beasiswa itu. Akan tetapi Pratifi tetap berusaha.
Pada hari pengumuman penerima beasiswa, Pratifi mengira bahwa dia tidak akan berhasil. Namun, kenyataan berkata lain. Pratifi lulus dalam seleksi tersebut dan mendapatkan full beasiswa sampai ia KOAS dari Kedokteran UMY. Dan ia pun bisa tinggal di asrama UMY “University Resident” (UNIRES) dengan gratis.
Segala kemudahan dan keberuntungan yang didapat Pratifi ini tidak membuatnya menjadi seseorang yang bersikap berlebihan. Ia tetap menjadi seseorang yang bersahaja dengan tidak mengikuti gaya hidup teman-temannya yang kebanyakan glamour. Akan tetapi ia justru merasa bingung dengan segala yang telah menimpa dan diterimanya.
Perasaan saya, Alhamdulillah, senang… tapi saya juga bingung, kok bisa saya yang mendapatkan hal semacam itu?” ungkap Pratifi masih dalam raut wajah bingung.
Tidak akan ada suatu hal yang mengherankan lagi, jika kita mau melihat kembali kedalam Al-Quran. Rezeki, kemudahan, kecukupan, kelapangan, pemecahan permasalahan, semuanya telah Allah janjikan dalam Al-Quran akan kita dapatkan. Hanya saja, syarat dari semua itu adalah dengan cara kita bertawakal dan benar-benar menyerahkan segala urusan yang telah kita usahakan hanya kepada Allah.
Ketika kita telah bisa menjadikan diri kita hanya bertawakal kepada Allah, maka yang akan kita dapati adalah, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (Ath-Thalaq:2) “dan Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaq:3) “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (Ath-Thalaq:4)   

Kerinduan Seorang Hamba



Mengapa hujan enggan berlalu
Embun dalam hati terus bertambah
Angin tak mampu menghalaunya
Kian hari kian bertambah kuat

Tak sanggup ku menahannya
Ingin selalu ku dekap
Agar tak lepas diterjang ombak

Ingin selalu ku memilikinya
Hingga mataku
Tak mampu lagi tuk terbuka

Hingga nafasku
Tak mampu lagi ku hembuskan
Dan hingga raga serta jiwaku
Hanya dapat terkulai
terlentang
Dan tertidur
dipangkuan-Mu
Duhai Ilahi Rabbiku...

_Maret 2010_


Kehadiran-Mu




Saat fikirku tak lagi terpusat
Ingatku hanya tertuju
Pada satu hal

Saat mata tak mampu
Menembus cakrawala
Namun hati kan tetap merasa

Saat lisan
Tak mampu tuk berucap
Dan saat tangan
Tak mampu tuk menggapai
Satu hal yang kuinginkan
Dan rasakan
Kehadiran-Mu



Desember 2008

Sudut Kehidupan

Selalu ada sesuatu... 
Yang lain.. 
Yang beda.. 
Di sudut kehidupan 


 Meski kau tak tahu 
Tak kau sadari 
Tak ingin pula kau ketahui


Tapi ini benar-benar ada 
 Sesuatu yang lain 
Yang berbeda 
Yang lahir dari sebuah rasa keingintahuan
 Yang tak terbatas 
Yang tak akan sirna 
Hingga ia terungkap


 Juni 2006