Dakwah di Era Digital
BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Berkembangnya
globalisasi di dunia ini baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi,
dan budaya telah menjadikan kehidupan manusia mengalami alienasi
, keterasingan pada
diri sendiri atau pada perilaku sendiri, akibat pertemuan
budaya-budaya yang tidak sepenuhnya terintegrasi dalam kepribadian
umat manusia.
Selama
masih ada manusia yang hidup di muka bumi ini, selama itu pula lah
satu hal yang dinamakan Dakwah itu perlu ada bahkan wajib ada. Karena
setiap muslim berkewajiban
untuk berdakwah, baik sebagai kelompok maupun individu, sesuai dengan
kemampuan masing-masing, dalam segi ilmu, tenaga, dan daya.
Dengan
derasnya arus
globalisasi yang juga menimpa umat islam, pelaksanaan dakwah seperti
mengejar
layang-layang yang putus.
Artinya hasil-hasil yang diperoleh dari dakwah selalu ketinggalan
dibanding dengan maraknya kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi
dalam masyarakat. Oleh sebab itu dibutuhkan sebuah konsep dakwah yang
sesuai dengan perkembangan zaman, karena dakwah tidak hanya
dilaksanakan berdasarkan tekstual tapi juga diperlukan cara dakwah
secara kontesktual. Disinilah saya akan sedikit memaparkan dan
membahas tentang Dakwah kontekstual dalam bingkai amar ma’ruf nahi
munkar berdasarkan Al-Quran dan Hadits.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian
Secara
etimologis kata dakwah ini berasal dari bahasa Arab yang memiliki
akar kata دعا-
يدع-
دعوة
yang berarti
menyeru, memanggil, mengajak. Isim fa’ilnya (pelaku) adalah da’i
داع)
) yang berarti pendakwah.
Dan
secara terminologis dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang
muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam
sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk
dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan
bahagia di akhirat. Singkatnya, dakwah, seperti yang ditulis Abdul
Karim Zaidan, adalah mengajak kepada agama Allah, yaitu Islam.
Kata
“kontekstual” berasal dari “konteks” yang dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia mengandung dua arti: 1) bagian sesuatu uraian atau
kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2)
situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadian.(Tim Penyusun Kamus:
1989: 458). Dengan kata
lain Kontekstual merupakan sesuatu yang sifatnya dinamis, uptudate
dapat diterima, dipahami secara umum, relevan dengan situasi, tidak
ketinggalan zaman, fleksibel, terbuka, dan dinamis dalam situasi dan
kondisi apapun.
- Jalan Dakwah Rasulullah S.A.W
Muhammad
bin Abdullah, sebuah nama yang ditulis dengan huruf yang bercahaya
dalam jiwa orang-orang yang mengesakan Allah. Dialah orang terkemuka
dan terhormat, orang yang disebut namanya di dalam Taurat dan Injil,
orang yang dibantu Jibril membawa bendera kemuliaan, dan orang yang
namanya menggema di kalangan Bani Abdi Manaf bin Qusay.
Dialah kebahagiaan dan kenikmatan
untuk semua, ketika dia berkhutbah, mimbar pun terguncang, jiwa-jiwa
terbangunkan, semangat terbakar, orang-orang yang mendengar akan
tergerak, dan para pengkhutbah pun akan terheran-heran. Ketika dia
bertutur, tuturannya membawa ke batas jiwa dan melewati tepian ruh.
Ucapannya menyusup ke relung-relung hati. Kata-katanya membekas dalam
lembaran ingatan sebagai ukiran yang indah dan menggaris dalam empedu
hati. (‘Aidh Al-Qarni, 2008: 129)
Beliaulah Rasulullah s.a.w, sang
pembawa risalah Ilahi. Selama dua puluh empat tahun beliau tidak
pernah istirahat dan diam, tidak hidup untuk diri sendiri dan
keluarga beliau. Beliau senantiasa bangkit untuk berdakwah kepada
Allah, memanggul beban berat di pundaknya, tidak mengeluh dalam
melaksanakan beban amanat yang besar di muka bumi ini, memikul beban
kehidupan semua manusia, beban akidah, perjuangan, dan jihad, di
berbagai medan.
Jika kita melihat kembali pada
sejarah, dimana Rasulullah s.a.w masih hidup, tantangan dan cobaan
dakwah yang beliau alami jauh lebih berat daripada dakwah kita di
zaman ini. Berbagai tekanan ejekan,penghinaan, menjelek-jelekkan
ajaran beliau, melawan Al-Quran dengan dongeng orang-orang dahulu,
yang dilakukan orang kafir Quraisy demi menghentikan laju dakwah
Rasulullah di sebarkan secara terang-terangan sejak permulaan tahun
keempat kenabian. Tak pernah ada seorang da’i yang pernah dilempari
batu hingga tumitnya berdarah, di taburi duri didepan rumah dan di
jalan yang dilaluinya, dilempari isi perut seekor domba ketika sedang
shalat, atau diletakkan kotoran unta ketika sedang sujud kepada Allah
SWT. Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi kecuali pada Nabi
Muhammad SAW. Namun, gangguan dan siksaan-siksaan seperti ini tidak
begitu berarti bagi Rasulullah SAW, karena beliau memiliki
kepribadian yang tidak ada duanya, berwibawa dan dihormati setiap
orang, umum maupun khusus.(Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2010: 90)
Kesempurnaan jiwa dan kemuliaan
akhlak beliau selalu tercermin dalam setiap detik kehidupannya.
Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri,
suka memaafkan ketika memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan.
Beliau adalah orang yang paling tawadhu’ (merendahkan diri) dan
paling jauh dari sifat sombong, orang yang paling adil, paling jujur
perkataannya, paling aktif memenuhi janji dan menyambung tali
persaudaraan, membaguskan yang bagus dan membenarkannya, memburukkan
yang buruk dan melemahkannya, tidak kaku dan keras, tidak suka
mengutuk, tidak berkata keji,dan tidak suka mencela. Beliau
meninggalkan tiga perkara dari dirinya: riya’, banyak bicara dan
membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau meninggalkan manusia
dari tiga perkara: tidak mencela seseorang, tidak menghinanya dan
tidak mencari-cari kesalahannya.
Secara umum Rasulullah SAW adalah
gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari tandingannya.
Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya, sampai-sampai Allah
SWT berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau,
“Dan sesunguhnya kamu
benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam:
4)
Sifat-sifat yang sempurna inilah yang
membuat jiwa manusia merasa dekat dengan beliau, membuat hati mereka
mencintai beliau, menempatkan beliau sebagai pimpinan yang menjadi
tumpuan harapan hati. Bahkan orang-orang yang dulunya bersikap keras
terhadap beliau berubah menjadi lemah lembut, hingga akhirnya manusia
masuk ke dalam agam Allah secara berbondong-bondong. Inilah rahasia
suksesnya dakwah Rasulullah SAW, dengan jerih payah disertai akhlak
beliau yang mulia dalam berdakwah Islam dapat tersebar ke seantero
dunia hingga saat ini.
- Prinsip-prinsip Dakwah
Untuk melaksanakan dakwah, Allah SWT
telah memberikan petunjuk seperti tersebut dalam Alquran Surat
An-Nahl ayat 125
ادع الى
سبيل ربك با لحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم
با لتى هي احسن
“Serulah (manusia) kepada jalan
Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan jalan yang lebih baik.”
(An-Nahl : 125)
Seorang da’i yang mengajak manusia
ke jalan Allah hendaknya menggunakan cara yang baik dan bijaksana.
Bijaksana dalam artian mempertimbangkan
situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapi. Berdakwah dengan
bijaksana berarti seorang dai harus memperhatikan waktu, tempat,dan
lingkungan masyarakat yang dihadapi. Berdakwah dengan hikmah, yakni
harus dengan ilmu. Allah dan Rasul-Nya menyebut ilmu itu dengan
sebutan hikmah, karena ilmu itu menyangkal kebatilan dan membantu
manusia untuk mengikuti yang haq (kebenaran).
Seorang da’i harus mengetahui dan
menguasai apa-apa yang diserukannya dan apa-apa yang dilarangnya
sehingga tidak berbicara atas nama Allah tanpa berdasarkan ilmu.
Namun, bersama ilmu itu pula harus disertaidengan pelajaran (nasihat)
yang baik dan bantahan yang lebih baik saat di perlukan, karena
sebagian orang ada yang hanya cukup dengan penjelasan kebenaran dan
sebagian lagi ada yang tidak bereaksi dengan penjelasan tentang
kebenaran sehingga perlu nasihat yang baik. Dan ada pula yang telah
diliputi keraguan, untuk hal yang semacam ini perlu didebat
(dibantah) dengan tujuan untuk membongkar keraguan tersebut. Maka
sang da’i dalam menghadapi situasi seperti ini perlu menerangkan
kebenaran disertai dalil-dalinya serta membantah keraguan tersebut
dengan dalil-dalil syar’i. Dan dalam melakukan ini harus dengan
perkataan yang baik, tutur kata yang halus dan lembut, tidak kasar
dan tidak keras agar orang yang didakwahinya tidak antipati terhadap
kebenaran dan tetap bertahan pada kebatilannya.
Rasulullah SAW pernah berpesan kepada
Mu’adz bin Jabal saat beliau mengutusnya ke Yaman,
“Ajaklah mereka untuk bersaksi
bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa
sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Setelah mereka mematuhi itu,
beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas
mereka pelaksanaan lima kali shalat dalam sehari semalam. Setelah
mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah
telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari yang kaya untuk
disalurkan kepada yang miskin di antara mereka.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Dari pesan Nabi SAW tersebut dapat
kita ketahui bahwa dakwah dimulai dengan yang paling penting, lalu
yang penting dengan memilih kesempatan, waktu dan tempat yang tepat
dan sesuai untuk berdakwah. Adakalanya saat yang tepat adalah
mendakwahinya di rumahnya dengan mengajaknya berbincang-bincang,
adakalanya juga cara yang tepat adalah dengan mengajaknya berkunjung
ke rumah seseorang agar didakwahi, adakalanya pula pada saat-saat
yang lain. Namun yang jelas, seorang muslim yang berakal dan
berpengetahuan akan mengetahui bagaimana bersikap dalam mengajak
orang lain kepada kebenaran.
- Dakwah Kontekstual di Era Digital
Metode dakwah Rasulullah SAW pada
awalnya dilakukan melalui pendekatan individual (personal
approach) dengan
mengumpulkan kaum kerabatnya di bukit Shafa. Kemudian berkembang
melalui pen dekatan kolektif seperti yang dilakukan saat ber dakwah
ke Thaif dan pada musim haji.
Dakwah kontekstual diartikan sebagai
cara penyiaran Islam yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi
masyarakat serta problem yang mereka hadapi. Problem yang dihadapi
oleh masyarakat tidak selalu tetap tetapi bisa berubah-ubah dari
waktu ke waktu.
Para penyiar Islam, seperti : dai,
mubalig, ulama, kiai, ustad, guru agama, dosen agama, hendaknya
selalu menyampaikan ajaran Islam yang ada relevansinya dengan
problem-problem yang aktual. Ajaran Islam hendaknya difungsikan
sebagai problem
solving.
Metode-metode sosialisasi dan internalisasi ajaran Islam hendaknya
selalu dibahas secara mendalam agar lebih efektif.
Dan di abad ini dimana kita hidup
saat ini adalah abad ke-21, dan saya menyebutnya sebagai abad atau
era globalisasi dan era digital. Era globalisasi, yang telah
menjadikan semua yang ada di muka bumi ini dapat terjangkau dan dapat
kita temui dimana saja kita berada. Globalisme yang telah memasuki
ranah-ranah kehidupan, baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi,
budaya, food, fun
dan fasion,
telah mempengaruhi
gaya dan cara hidup masyarakat. Era digital, telah mulai merasuk
dalam nafas hidup masyarakat. Semua serba bisa. Peralatan elektronik
digital yang awalnya hanya dimiliki oleh kalangan atas, kini sudah
mulai dimiliki oleh berbagai kalangan. Sampai penjual bakso dan
siomay pun juga ikut merasakan dan memiliki peralatan canggih ini
(red. HP). Dan internet yang mulai diminati dan menjadi kebutuhan
dari mulai orang tua hingga anak-anak. Hal ini tidak terlepas dari
dampak globalisasi yang telah merambah ke negara kita tercinta ini.
Disinilah kita para da’i dan da’iyah hidup. Di zaman yang sudah
semakin canggih dan modern.
Sejalan dengan perkembangan teknologi
yang mengakibatkan perubahan tata nilai dan budaya manusia ke arah
tata kehidupan yang bersifat rasional dan fungsional, pemanfaatan
media untuk menyampaikan pesan kebajikan merupakan potensi penting
dan langkah strategis yang harus mendapat perhatian proporsional.
Dalam konteks Islam, informasi jelas mempunyai kedudukan yang sangat
strategis, terutama dalam konteks dakwah Islamiyah sebagai upaya
menyebarluaskan nilai-nilai religiusi kepada umat manusia. Informasi
yang berkembang diharapkan tidak menciptakan dan menyebarkan
informasi yang menyesatkan sehingga citra kebenaran menjadi
menyimpang.
“Sampaikanlah, walau hanya satu
ayat,” demikian
ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya suatu ketika. Ujaran
yang sangat terkenal tersebut berintikan ajakan kepada para penganut
agama Islam untuk senantiasa menyempatkan diri untuk berdakwah dan
berbagi pengetahuan bagi sesama, kapanpun dan dimanapun.
Semangat dakwah yang disebut diatas;
meskipun hanya satu ayat, merupakan satu bentuk “tanggung jawab
moril” yang sangat mengakar di kalangan umat Islam. Segala daya dan
upaya untuk melakukan dakwah terus dilakukan, hingga kini.Setelah
beratus tahun berselang sejak dakwah lisan dikumandangkan oleh
Rasulullah, pada masa kini dakwah telah menggunakan medium bit,
binary dan digital. Dakwah dalam bentuk tulisan di buku, koran,
majalah, tv dan radio mendapatkan komplementernya berupa text dan
hypertext di Internet.
Internet adalah media dan sumber
informasi yang paling canggih saat ini sebab teknologi ini menawarkan
berbagai kemudahan, kecepatan, ketepatan akses dan kemampuan
menyediakan berbagai kebutuhan informasi setiap orang, kapan saja,
dimana saja dan pada tingkat apa saja. Internet sebagai sumber
informasi memungkinkan semua orang untuk terus belajar seumur hidup,
kapan dan dimanapun serta untuk keperluan apapun. Dan untuk kebutuhan
belajar bagi setiap individu, Internet tidak hanya menyediakan
fasilitas penelusuran informasi tetapi juga komunikasi.
Berdakwah merupakan kewajiban setiap
manusia, setiap orang dalam berbagai profesi bisa melaksanakan
da’wah. Sebab berda’wah dapat dilakukan dalam multidemiensi
kehidupan. Sebagaimana telah diketahui bahwa dakwah Islam tidak hanya
bi al-lisan (dengan ungkapan/kata-kata), melainkan juga bi al-kitab
(sengan tulis-menulis), bi at-tadbir (manajemen/pengorganisasian) dan
bi al-hal (aksi sosial). Seorang dai atau muballig yang baik tidak
hanya menguasai materi dakwah, melainkan juga harus memahami budaya
masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Rasulullah SAW bersabda
yang artinya: “Berbicaralah
kepada manusia menurut kadar kecerdasan mereka.”
(HR. Muslim). Hal ini menunjukkan dan menuntut para da’i untuk bisa
mengetahui dimana mereka berada, seperti apa mad’u mereka, dan
bagaimana cara mereka menyampaikan dakwahnya kepada para mad’unya.
Dengan demikian akan mempermudah da’i dalam memilih kata dan
menemukan metode apa yang harus digunakan.
Dengan adanya globalisasi ini
kompetisi akan semakin berat, sehingga kita perlu berlomba-lomba
menguasai teknologi informasi serta mencari ilmu pengetahuan
sebanyak-banyaknya, oleh karenanya penguasaan teknologi informasi
mutlak diperlukan oleh umat Islam, karena hal itu merupakan salah
satu cara paling efektif guna menyampaikan informasi yang sebenarnya
mengenai agama Islam.
Setiap penuntut ilmu yang dianugerahi
pemahaman oleh Allah dalam perkara agama dan setiap alim yang telah
di bukakan akalnya oleh Allah, hendaknya memanfaatkan ilmu yang telah
dianugerahkan kepadanya, memanfaatkan setiap kesempatan yang
memungkinkan untuk berdakwah, sehingga dengan begitu ia bisa
menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah, mengajarkan syari’at
Allah kepada masyarakat, mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah
mereka dari kemungkaran, menerangkan kepada mereka hal-hal yang masih
samar terhadap mereka di antara perkara-perkara yang diwajibkan atas
mereka atau diharamkan Allah atas mereka.
Dalam Majalah
Tabligh, Dakwah Khusus, Vol. 01/No. 12/Juli 2003
dituliskan tentang pemikiran Prof.
Dr. H. M. Amien Rais,MA. dalam bukunya Moralitas
Politik Muhammadiyah,
yang menawarkan lima ‘Pekerjaan Rumah’ yang perlu diselesaikan,
agar dakwah Islam di era informasi sekarang tetap relevan, efektif,
dan produktif.
Pertama,
perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru-juru dakwah
dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka tidak cukup
untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai
penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.
Kedua,
setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu
membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “Labda” ini akan dapat
diketahui masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan
dilakukan.
Ketiga,
proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi
harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan),
bil-hikmah (dalam arti politik), bil-iqtishadiyah (ekonomi), dan
sebagainya. Yang jelas, actions,speak
louder than word.
Keempat,
media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan
sekarang juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana
dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa
depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan
Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi
peningkatan dakwah Islam di tanah air.
Kelima,
merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang.
Anak-anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai. Mereka
wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat
‘invasi’ nilai-nilai non islami ke dalam jantung berbagai
komunitas Islam di Indonesia. Bila anak-anak dan remaja kita memiliki
benteng tangguh (al-hususn
al-hamidiyyah)
dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa
depan dakwah kita akan tetap ceria.
uraian di atas, dapat diprediksi
bahwa missi dan tantangan dakwah tidaklah pernah akan semakin ringan,
melainkan akan semakin berat dan hebat bahkan semakin kompleks dan
melelehkan. Oleh sebab itu, maka dakwah kita saat ini tidak hanya
terbatas pada mimbar-mimbar saja, akan tetapi kita bisa berdakwah
lewat media apa saja, dimana saja, dan kapan saja, dengan tetap
berlandaskan pada metode dakwah Rasulullah SAW dan yang telah
dijelaskan dalam AL-Quran.
ادع الى
سبيل ربك با لحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم
با لتى هي احسن
“Serulah (manusia) kepada jalan
Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan jalan yang lebih baik.”
(An-Nahl : 125)
ومن احسن
قولا ممن دعا الى الله وعمل صلحا وقال
انني من المسلمين
“Siapakah yang lebih baik
perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan
amal yang shaleh dan berkata ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang berserah diri.” (Fusshilat:
33)
من دعا الى
لهدى كان له من الاجر مثل اجور من تبعه لا
ينقص ذلك من اجورهم شيءا
“Barangsiapa mengajak kepada
petunjuk, maka baginya pahal seperti pahala orang-orang yang
mengikuti (ajakan)nya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala
mereka.” (HR.
Muslim)
BAB III
PENUTUP
Berdakwah
harus dimulai dari diri sendiri, ketika diri kita sudah didakwahi dan
berhasil maka berulah kita mendakwahi orang lain. Dan orang lain
tersebut kita mulai dari orang-orang terdekat kita yakni, keluarga
kita. Karena ketika Rasulullah SAW diperintah oleh Allah untuk
berdakwah secara terang-terangan, pertama kali yang beliau dakwahi
adalah keluarga dan kerabat terdekat.
Dan
menghadapi tantangan dakwah masa kini yang semakin kompleks, maka
salah satu alternatif yakni dengan berdakwah secara kontekstual,
dengan menggunakan segala aspek yang mendukung dakwah akan tetap bisa
terlaksana, baik itu dakwah melalui media, dan dunia maya seperti
internet yang saat ini sedang membooming di semua kalangan
masyarakat.
Dengan
tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits, insyaallah dakwah
kita akan berjalan lancar dan sesuai dengan amar ma’ruf nahi
mungkar. Karena lewat media inilah saat ini kita berdakwah dan
berhadapan dengan para mad’u yang kompeten dalam bidang ini. Dan
kita sebagai da’i seharusnya juga bisa menyamai dan menguasai
media layaknya mereka yang sudah kompeten.
Daftar Pustaka
Al-Mubarakfuri,
Shafiyyurrahman. 2010. Sirah
Nabawiyah. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar.
Al-Qarni,
‘Aidh. 2008. Laksana
Nabi Muhammad SAW.
Jogjakarta: Diva Press.
Al-Quran
Tajwid dan Terjemahannya. Syamil
Al-Quran
Fatwa-fatwa
tentang Dakwah, Menyeru Manusia Ke Jalan Allah
Kamus
digital Al-Mufid
Majalah
Islam Ar-Risalah edisi 79 tahun VII
Tim Penyusun Kamus
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka 1989