Kemudahan
Di Balik Penderitaan
“Udah,
kamu itu pulang aja, sekolah di rumah aja, mamak ini udah nggak punya
duit!” ungkap Pratifi mengingat dan menirukan nada bicara ibunya.
Gadis berumur 18 tahun ini adalah salah seorang dari tiga orang
mahasisiwa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mendapatkan
full beasiswa di Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum.
Kehidupan
keluarga Pratifi mungkin tidak semujur kehidupannya dalam dunia
pendidikan. Ibunya dulu adalah seorang pegawai pabrik di PT. Tekstil
Bandung. Namun, saat ini ibunya hanya bekerja sebagai pedagang
jajanan Sekolah-sekolah Dasar di wilayah Kulonprogo Yogyakarta.
Sedangkan
ayahnya telah meninggal sejak ia masih kelas satu SD. “Pertama kali
saya masuk SD pada hari senin tahun 1999, ayah saya mengalami
kecelakaan, dan pada hari kamisnya ayah saya meninggal,” kenang
Pratifi dengan mata berkaca-kaca.
Sejak
saat itu kehidupan pun mereka jalani hanya berdua. Antara ibu dan
anaknya. Suka duka, susah senang menjalani dan menghadapi kerasnya
hidup, mereka rasakan bersama. Terlebih lagi ketika Pratifi masih
tetap ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi,
namun terbentur dengan faktor ekonomi keluarga yang kurang mendukung.
Hal
tersebut ia rasakan saat ia duduk dibangku kelas tiga SMP Mu’allimat
Yogyakarta. Ia ingin melanjutkan pendidikannya di Mu’allimat sampai
kelas tiga SMA. Namun karena Mu’allimat itu adalah sekolah swasta
dan juga memiliki asrama sendiri, hingga biaya yang dibutuhkan pun
juga cukup tinggi. Hal ini menjadikan Pratifi dan ibunya harus
berpikir ulang.
Akan
tetapi, karena kemantapan hati dan keyakinannya, Pratifi tetap tidak
ingin meninggalkan Mu’allimat meski ibunya membujuknya untuk
melanjutkan sekolah di rumahnya. Keinginan Pratifi ini ternyata
terjawab dengan sempurna. Salah seorang kakak kelasnya yang merupakan
keponakan dari pimpinan salah satu Panti Asuhan di Yogyakarta,
menawarkan padanya untuk tinggal di panti tersebut.
“Kamu
mau nggak tinggal di panti? Nanti untuk biaya sekolah, buku-buku dan
keperluan lainnya akan dibayarkan oleh pihak panti, tapi syaratnya
kamu harus tinggal di panti,” ungkap Pratifi, mengingat kata-kata
kakak kelasnya. Dan dengan segera pula Pratifi menerima tawaran kakak
kelasnya. Di samping karena ia berpikir bahwa tinggal di asrama lebih
baik daripada hidup di luar, ia menerima tawaran itu juga karena
faktor ekonomi, hingga dengan begitu ia juga tidak akan membebani
ibunya.
Keberuntungan
yang didapatnya ternyata tidak berhenti sampai disini. Saat ada pihak
UMY yang datang ke panti tempat dia tinggal, mereka menawarkan adanya
beasiswa dari Kedokteran UMY pada para pelajar SMA jurusan IPA yang
tinggal di panti asuhan Muhammadiyah.
Kesempatan
ini tidak dibuang sia-sia oleh Pratifi. Ia mengerahkan seluruh
tenaga, kemampuan dan do’a agar bisa menjadi orang yang mendapatkan
beasiswa itu. Meski kadang rasa pesimis hadir dalam hatinya karena
ada temannya yang tinggal di panti yang sama dengannya dan lebih
pintar darinya ikut serta dalam seleksi penerima beasiswa itu. Akan
tetapi Pratifi tetap berusaha.
Pada
hari pengumuman penerima beasiswa, Pratifi mengira bahwa dia tidak
akan berhasil. Namun, kenyataan berkata lain. Pratifi lulus dalam
seleksi tersebut dan mendapatkan full beasiswa sampai ia KOAS dari
Kedokteran UMY. Dan ia pun bisa tinggal di asrama UMY “University
Resident” (UNIRES) dengan gratis.
Segala
kemudahan dan keberuntungan yang didapat Pratifi ini tidak membuatnya
menjadi seseorang yang bersikap berlebihan. Ia tetap menjadi
seseorang yang bersahaja dengan tidak mengikuti gaya hidup
teman-temannya yang kebanyakan glamour. Akan tetapi ia justru merasa
bingung dengan segala yang telah menimpa dan diterimanya.
“Perasaan
saya, Alhamdulillah, senang… tapi saya juga bingung, kok bisa saya
yang mendapatkan hal semacam itu?” ungkap Pratifi masih dalam raut
wajah bingung.
Tidak
akan ada suatu hal yang mengherankan lagi, jika kita mau melihat
kembali kedalam Al-Quran. Rezeki, kemudahan, kecukupan, kelapangan,
pemecahan permasalahan, semuanya telah Allah janjikan dalam Al-Quran
akan kita dapatkan. Hanya saja, syarat dari semua itu adalah dengan
cara kita bertawakal dan benar-benar menyerahkan segala urusan yang
telah kita usahakan hanya kepada Allah.
Ketika
kita telah bisa menjadikan diri kita hanya bertawakal kepada Allah,
maka yang akan kita dapati adalah, “Barang
siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar
baginya.” (Ath-Thalaq:2)
“dan Dia
memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang
siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya.” (Ath-Thalaq:3)
“Dan barang siapa
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan kemudahan baginya
dalam urusannya.”
(Ath-Thalaq:4)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar