Tampilkan postingan dengan label Kulonprogo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulonprogo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Berita Jurnalistik: Diklat Jurnalistik, Pintu Awal Keanggotaan LPPM Nuansa

YOGYAKARTA – Lembaga Pengembangan dan Pers Mahasiswa (LPPM) Nuansa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jum’at (9/03) mengadakan diklat jurnalistik dasar untuk para anggota barunya. Kegiatan diklat ini dilaksanakan sejak hari Jum’at malam hingga Ahad sore, dan bertempat di kawasan Waduk Sermo Kulonprogo. Diklat jurnalistik ini dilaksanakan sebagai pintu awal peserta menjadi anggota tetap LPPM Nuansa.

Salah seorang pembicara diklat yang merupakan salah seorang reporter di Radar Jogja dan juga alumni jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY angkatan tahun 2006, mengatakan pada peserta diklat, “manjadi wartawan itu enak, karena kita bisa mengukur dan melihat progress atau perkembangan diri kita sendiri. Dan berpikir kritis adalah modal utama untuk menjadi wartawan.”

Pada kesempatan berikutnya, Ahad (11/03), ketua panitia diklat jurnalistik dasar, Ahlul Alamsyah menjelaskan, “tujuan diadakannya diklat ini adalah untuk menghidupkan kembali LPPM Nuansa yang sempat vakum beberapa waktu yang lalu. Selain itu juga, berdasarkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) kami, diklat jurnalistik dasar ini merupakan tahap awal bagi calon anggota muda LPPM Nuansa untuk menjadi anggota tetap di media pers kami.”

Dan harapan kami, lanjut Ahlul lagi yang juga merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY angkatan 2010, diklat jurnalistik ini dapat memberikan pandangan dasar pada calon anggota muda tentang jurnalistik.

Penjelasan lain mengenai calon anggota muda juga dijelaskan oleh Sekretaris Umum LPPM Nuansa,  Hermin “setelah acara diklat ini, para peserta diklat belum secara langsung menjadi anggota tetap LPPM Nuansa,” katanya.

Akan tetapi, lanjutnya lagi, para peserta tersebut terlebih dahulu akan menjadi anggota magang LPPM Nuansa selama satu bulan setengah. Kemudian setelah magang selesai barulah mereka akan menjadi anggota tetap Nuansa dan akan memiliki kartu pers mahasiswa. Dan para anggota muda juga akan mendapatkan bekal jurnalistik lainnya, melalui pelatihan-pelatihan jurnalistik berikutnya.

Kerja keras dan harapan dari panitia ini ternyata tidak sia-sia, hal tersebut dibuktikan dengan komentar salah seorang   peserta diklat, Ilmiyanti mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UMY, “banyak pelatihan jurnalisme yang mengena di jiwa karena dikaitkan dengan alam dan intuisi seorang jurnalis,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, para peserta diklat juga menyampaikan harapan-harapannya setelah acara diklat tersebut usai, “semoga ilmu yang sudah didapat bisa bermanfaat bagi jurnalis-jurnalis muda UMY, dan pelatihan selanjutnya bisa lebih baik lagi,” kata Nurjannah Awaliyah mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UMY.

Harapan yang senada juga disampaikan oleh Angger Cahyaning Tyas Asih mahasiswi HI UMY, “setelah acara diklat ini selesai, pastinya saya ingin ilmu yang sudah saya dapatkan dari acara ini dapat bermanfaat dan diaplikasikan dengan baik,” kata Tyas.

Sementara itu, mahasiswi KPI, Ilmiyanti menambahkan harapannya pada Nuansa, “mudah-mudahan saya bisa bertahan dan mempertahankan Nuansa bersama teman-teman jurnalis lainnya dengan penuh kesolidan,” katanya lagi.

Selasa, 27 Maret 2012

Feature


Kemudahan Di Balik Penderitaan
Udah, kamu itu pulang aja, sekolah di rumah aja, mamak ini udah nggak punya duit!” ungkap Pratifi mengingat dan menirukan nada bicara ibunya. Gadis berumur 18 tahun ini adalah salah seorang dari tiga orang mahasisiwa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mendapatkan full beasiswa di Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum.
Kehidupan keluarga Pratifi mungkin tidak semujur kehidupannya dalam dunia pendidikan. Ibunya dulu adalah seorang pegawai pabrik di PT. Tekstil Bandung. Namun, saat ini ibunya hanya bekerja sebagai pedagang jajanan Sekolah-sekolah Dasar di wilayah Kulonprogo Yogyakarta.
Sedangkan ayahnya telah meninggal sejak ia masih kelas satu SD. “Pertama kali saya masuk SD pada hari senin tahun 1999, ayah saya mengalami kecelakaan, dan pada hari kamisnya ayah saya meninggal,” kenang Pratifi dengan mata berkaca-kaca.
Sejak saat itu kehidupan pun mereka jalani hanya berdua. Antara ibu dan anaknya. Suka duka, susah senang menjalani dan menghadapi kerasnya hidup, mereka rasakan bersama. Terlebih lagi ketika Pratifi masih tetap ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, namun terbentur dengan faktor ekonomi keluarga yang kurang mendukung.
Hal tersebut ia rasakan saat ia duduk dibangku kelas tiga SMP Mu’allimat Yogyakarta. Ia ingin melanjutkan pendidikannya di Mu’allimat sampai kelas tiga SMA. Namun karena Mu’allimat itu adalah sekolah swasta dan juga memiliki asrama sendiri, hingga biaya yang dibutuhkan pun juga cukup tinggi. Hal ini menjadikan Pratifi dan ibunya harus berpikir ulang.
Akan tetapi, karena kemantapan hati dan keyakinannya, Pratifi tetap tidak ingin meninggalkan Mu’allimat meski ibunya membujuknya untuk melanjutkan sekolah di rumahnya. Keinginan Pratifi ini ternyata terjawab dengan sempurna. Salah seorang kakak kelasnya yang merupakan keponakan dari pimpinan salah satu Panti Asuhan di Yogyakarta, menawarkan padanya untuk tinggal di panti tersebut.
Kamu mau nggak tinggal di panti? Nanti untuk biaya sekolah, buku-buku dan keperluan lainnya akan dibayarkan oleh pihak panti, tapi syaratnya kamu harus tinggal di panti,” ungkap Pratifi, mengingat kata-kata kakak kelasnya. Dan dengan segera pula Pratifi menerima tawaran kakak kelasnya. Di samping karena ia berpikir bahwa tinggal di asrama lebih baik daripada hidup di luar, ia menerima tawaran itu juga karena faktor ekonomi, hingga dengan begitu ia juga tidak akan membebani ibunya.
Keberuntungan yang didapatnya ternyata tidak berhenti sampai disini. Saat ada pihak UMY yang datang ke panti tempat dia tinggal, mereka menawarkan adanya beasiswa dari Kedokteran UMY pada para pelajar SMA jurusan IPA yang tinggal di panti asuhan Muhammadiyah.
Kesempatan ini tidak dibuang sia-sia oleh Pratifi. Ia mengerahkan seluruh tenaga, kemampuan dan do’a agar bisa menjadi orang yang mendapatkan beasiswa itu. Meski kadang rasa pesimis hadir dalam hatinya karena ada temannya yang tinggal di panti yang sama dengannya dan lebih pintar darinya ikut serta dalam seleksi penerima beasiswa itu. Akan tetapi Pratifi tetap berusaha.
Pada hari pengumuman penerima beasiswa, Pratifi mengira bahwa dia tidak akan berhasil. Namun, kenyataan berkata lain. Pratifi lulus dalam seleksi tersebut dan mendapatkan full beasiswa sampai ia KOAS dari Kedokteran UMY. Dan ia pun bisa tinggal di asrama UMY “University Resident” (UNIRES) dengan gratis.
Segala kemudahan dan keberuntungan yang didapat Pratifi ini tidak membuatnya menjadi seseorang yang bersikap berlebihan. Ia tetap menjadi seseorang yang bersahaja dengan tidak mengikuti gaya hidup teman-temannya yang kebanyakan glamour. Akan tetapi ia justru merasa bingung dengan segala yang telah menimpa dan diterimanya.
Perasaan saya, Alhamdulillah, senang… tapi saya juga bingung, kok bisa saya yang mendapatkan hal semacam itu?” ungkap Pratifi masih dalam raut wajah bingung.
Tidak akan ada suatu hal yang mengherankan lagi, jika kita mau melihat kembali kedalam Al-Quran. Rezeki, kemudahan, kecukupan, kelapangan, pemecahan permasalahan, semuanya telah Allah janjikan dalam Al-Quran akan kita dapatkan. Hanya saja, syarat dari semua itu adalah dengan cara kita bertawakal dan benar-benar menyerahkan segala urusan yang telah kita usahakan hanya kepada Allah.
Ketika kita telah bisa menjadikan diri kita hanya bertawakal kepada Allah, maka yang akan kita dapati adalah, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (Ath-Thalaq:2) “dan Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaq:3) “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (Ath-Thalaq:4)