YOGYAKARTA – Lembaga Pengembangan dan Pers Mahasiswa (LPPM) Nuansa
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jum’at (9/03) mengadakan
diklat jurnalistik dasar untuk para anggota barunya. Kegiatan diklat ini
dilaksanakan sejak hari Jum’at malam hingga Ahad sore, dan bertempat di
kawasan Waduk Sermo Kulonprogo. Diklat jurnalistik ini dilaksanakan
sebagai pintu awal peserta menjadi anggota tetap LPPM Nuansa.
Salah seorang pembicara diklat yang merupakan salah seorang reporter di Radar Jogja dan juga alumni jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY angkatan tahun 2006, mengatakan pada peserta diklat, “manjadi wartawan itu enak, karena kita bisa mengukur dan melihat progress atau perkembangan diri kita sendiri. Dan berpikir kritis adalah modal utama untuk menjadi wartawan.”
Pada kesempatan berikutnya, Ahad (11/03), ketua panitia diklat jurnalistik dasar, Ahlul Alamsyah menjelaskan, “tujuan diadakannya diklat ini adalah untuk menghidupkan kembali LPPM Nuansa yang sempat vakum beberapa waktu yang lalu. Selain itu juga, berdasarkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) kami, diklat jurnalistik dasar ini merupakan tahap awal bagi calon anggota muda LPPM Nuansa untuk menjadi anggota tetap di media pers kami.”
Dan harapan kami, lanjut Ahlul lagi yang juga merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY angkatan 2010, diklat jurnalistik ini dapat memberikan pandangan dasar pada calon anggota muda tentang jurnalistik.
Penjelasan lain mengenai calon anggota muda juga dijelaskan oleh Sekretaris Umum LPPM Nuansa, Hermin “setelah acara diklat ini, para peserta diklat belum secara langsung menjadi anggota tetap LPPM Nuansa,” katanya.
Akan tetapi, lanjutnya lagi, para peserta tersebut terlebih dahulu akan menjadi anggota magang LPPM Nuansa selama satu bulan setengah. Kemudian setelah magang selesai barulah mereka akan menjadi anggota tetap Nuansa dan akan memiliki kartu pers mahasiswa. Dan para anggota muda juga akan mendapatkan bekal jurnalistik lainnya, melalui pelatihan-pelatihan jurnalistik berikutnya.
Kerja keras dan harapan dari panitia ini ternyata tidak sia-sia, hal tersebut dibuktikan dengan komentar salah seorang peserta diklat, Ilmiyanti mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UMY, “banyak pelatihan jurnalisme yang mengena di jiwa karena dikaitkan dengan alam dan intuisi seorang jurnalis,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, para peserta diklat juga menyampaikan harapan-harapannya setelah acara diklat tersebut usai, “semoga ilmu yang sudah didapat bisa bermanfaat bagi jurnalis-jurnalis muda UMY, dan pelatihan selanjutnya bisa lebih baik lagi,” kata Nurjannah Awaliyah mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UMY.
Harapan yang senada juga disampaikan oleh Angger Cahyaning Tyas Asih mahasiswi HI UMY, “setelah acara diklat ini selesai, pastinya saya ingin ilmu yang sudah saya dapatkan dari acara ini dapat bermanfaat dan diaplikasikan dengan baik,” kata Tyas.
Sementara itu, mahasiswi KPI, Ilmiyanti menambahkan harapannya pada Nuansa, “mudah-mudahan saya bisa bertahan dan mempertahankan Nuansa bersama teman-teman jurnalis lainnya dengan penuh kesolidan,” katanya lagi.
Salah seorang pembicara diklat yang merupakan salah seorang reporter di Radar Jogja dan juga alumni jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY angkatan tahun 2006, mengatakan pada peserta diklat, “manjadi wartawan itu enak, karena kita bisa mengukur dan melihat progress atau perkembangan diri kita sendiri. Dan berpikir kritis adalah modal utama untuk menjadi wartawan.”
Pada kesempatan berikutnya, Ahad (11/03), ketua panitia diklat jurnalistik dasar, Ahlul Alamsyah menjelaskan, “tujuan diadakannya diklat ini adalah untuk menghidupkan kembali LPPM Nuansa yang sempat vakum beberapa waktu yang lalu. Selain itu juga, berdasarkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) kami, diklat jurnalistik dasar ini merupakan tahap awal bagi calon anggota muda LPPM Nuansa untuk menjadi anggota tetap di media pers kami.”
Dan harapan kami, lanjut Ahlul lagi yang juga merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY angkatan 2010, diklat jurnalistik ini dapat memberikan pandangan dasar pada calon anggota muda tentang jurnalistik.
Penjelasan lain mengenai calon anggota muda juga dijelaskan oleh Sekretaris Umum LPPM Nuansa, Hermin “setelah acara diklat ini, para peserta diklat belum secara langsung menjadi anggota tetap LPPM Nuansa,” katanya.
Akan tetapi, lanjutnya lagi, para peserta tersebut terlebih dahulu akan menjadi anggota magang LPPM Nuansa selama satu bulan setengah. Kemudian setelah magang selesai barulah mereka akan menjadi anggota tetap Nuansa dan akan memiliki kartu pers mahasiswa. Dan para anggota muda juga akan mendapatkan bekal jurnalistik lainnya, melalui pelatihan-pelatihan jurnalistik berikutnya.
Kerja keras dan harapan dari panitia ini ternyata tidak sia-sia, hal tersebut dibuktikan dengan komentar salah seorang peserta diklat, Ilmiyanti mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UMY, “banyak pelatihan jurnalisme yang mengena di jiwa karena dikaitkan dengan alam dan intuisi seorang jurnalis,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, para peserta diklat juga menyampaikan harapan-harapannya setelah acara diklat tersebut usai, “semoga ilmu yang sudah didapat bisa bermanfaat bagi jurnalis-jurnalis muda UMY, dan pelatihan selanjutnya bisa lebih baik lagi,” kata Nurjannah Awaliyah mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UMY.
Harapan yang senada juga disampaikan oleh Angger Cahyaning Tyas Asih mahasiswi HI UMY, “setelah acara diklat ini selesai, pastinya saya ingin ilmu yang sudah saya dapatkan dari acara ini dapat bermanfaat dan diaplikasikan dengan baik,” kata Tyas.
Sementara itu, mahasiswi KPI, Ilmiyanti menambahkan harapannya pada Nuansa, “mudah-mudahan saya bisa bertahan dan mempertahankan Nuansa bersama teman-teman jurnalis lainnya dengan penuh kesolidan,” katanya lagi.