Membaca berita di media khususnya surat kabar cetak, masih selalu
yang menjadi topik hangat dan banyak diberitakan itu tentang masalah
yang menimpa negeri ini. Ada juga yang mengenai penderitaan atau hal-hal
yang dialami oleh kaum perempuan.
Jika berita tentang masalah yang menimpa negeri ini, berita itu
selalu terkait dengan yang namanya politik, korupsi, perekonomian
negara, APBN Negara, BBM, pangan, dan sebagainya. Politik memang tidak
bisa dilepaskan dari negara yang juga menganut sistem demokrasi ini,
namun menjelang Pemilu 2014 ini, terkadang partai politik itu juga
memanfaatkan media sebagai ajang mendulang suara. Tapi diantara itu,
anggota dari beberapa parpol itu terkait dengan kasus korupsi.
Hm..korupsi lagi..korupsi lagi.. Negeri ini belum terbebas dari yang
namanya korupsi…!
Kita kadang juga dibuat bingung dengan parpol-parpol itu. Menjual dan
mengobral janji. Bukan lagi janji yang kita butuhkan saat ini, tapi
tindakan. Hm…memang, benar-benar membingungkan!
Beralih ke masalah korupsi, juga seperti itu. Kalau kita perhatikan,
kebanyakan dari para terdakwa korupsi itu adalah orang-orang pintar dan
cerdas (sebenarnya). Tapi mungkin karena salah menggunakan kepintaran
dan kecerdasannya, jadinya ya seperti itu. Saya setuju dengan seseorang
yang pernah menuliskan di akun sosial medianya, bahwa orang-orang
seperti itu (yang terbawa arus ikut-ikutan korupsi atau yang sekarang
menjadi terdakwa korupsi) karena kurang pendidikan moralnya. Atau
mungkin bisa jadi, sudah mendapatkan pendidikan moral, tapi belum bisa
memeganganya secara utuh dan baik. Sehingga mereka lupa! Husnudzdzan
saja, mungkin benar mereka lupa. Jadi perlu diingatkan. Namun, bagaimana
caranya mengingatkan mereka? Apakah cukup jika hanya ditangani oleh KPK
saja? Tidak adakah tindakan yang mungkin bisa kita sumbangsihkan untuk
membantu KPK menyadarkan kembali orang-orang itu? Tapi, untuk saat ini,
siapakah sebenarnya yang harus diutamakan untuk berubah dan sadar akan
perbuatan yang kotor itu? Mereka atau diri kita dulu?
Hfft……
Sekarang giliran perempuan dilihat dari media. Kita perhatikan
bareng-bareng yuk, bagaimana media memandang dan membingkai perempuan
dalam ranah sosial. Kebanyakan, berita sekarang yang mengangkat tema
tentang kekerasan, banyak memuat mengenai kekerasan yang menimpa
perempuan. Seingat saya, dulu waktu saya masih kecil, waktu itu saya
baru lulus sekolah TK tapi saat itu, Allah menganugerahkan saya sudah
bisa membaca. Ibu saya memberikan banyak buku bacaan, buku cerita,
lembar soal, bahkan juga koran untuk saya baca. Kata ibu, agar saya bisa
lancar membacanya, dan kalau sudah masuk SD nanti langsung bisa baca
dan enak belajarnya. Nah, seingat saya saat itu, masih jarang sekali
saya membaca judul berita kekerasan terhadap perempuan. Tapi kalau
sekarang kok sepertinya sudah banyak sekali ya??!! Beberapa halaman di
surat kabar itu, kadang juga menyelipkan berita-berita kekerasan pada
perempuan. Entah ini karena perempuan masih dianggap sebagai orang
kedua, yang tidak bisa berbuat lebih, atau karena masih minimnya pelaku
media dari perempuan. Sehingga ada berita-berita semacam itu, seakan
berjalan mengalir begitu saja, tanpa ada kontrol. Padahal media
sebenarnya juga berperan sebagai kontrol sosial.
Bagaimana caranya
mengontrol kekerasan terhadap perempuan, kalau medianya sendiri masih
sering memberitakan tentang kekerasan pada perempuan?!!
Media setidaknya tidak terlalu sering mengumbar berita mengenai
kekerasan terhadap perempuan itu. Karena mungkin saja, dengan banyaknya
berita, judul berita mencolok yang menyatakan dengan jelas kekerasan
yang menimpa perempuan, hal itu lambat laun mungkin saja akan menjadi
hal lumrah.
Mengapa media massa itu tidak memperbanyak saja berita tentang
hal-hal positif di negeri ini?!
Kata-kata yang kita baca itu sebenarnya
berpengaruh pada pikiran kita. Satu hal lagi, mengapa masih ada
perempuan yang rela dieksploitasi. Rela menjadikan tubuhnya sebagai
bahan eksploitasi. Kita bisa lihat sendiri kan, betapa banyaknya
iklan-iklan di televisi, surat kabar, majalah, papan reklame yang
menyertakan perempuan dalam setiap produk yang ditawarkan pada publik.
Iya sih kalau perempuannya itu menggunakan pakaiannya yang
sopan..menutup seluruh tubuhnya..pakaiannya longgar..roknya atau
celananya panjang..lengan bajunya panjang…itu gak apa-apa.. karena
dengan itu kan, perempuan tidak merasa kalau tubuhnya dieksploitasi.
Emm….atau jangan-jangan perempuan juga tidak sadar kalau sebenarnya
dirinya dieksploitasi ?! Hm……
Kata-kata..atau gambar yang baik..akan berpengaruh pada pikiran kita.
Kalau kita membaca atau mendengar kata-kata yang positif, maka pikiran
kita pun akan positif dan membentuk energi positif. Begitu pun
sebaliknya, kalau kata-kata yang kita baca dan dengar itu negatif, maka
pikiran pun akan membentuk pikiran dan energi negatif. Semoga kita bisa
lebih bijak dalam menyikapi segala berita yang disajikan oleh media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar