Sabtu, 24 September 2011

Media Pembelajaran Elektronik untuk anak usia PAUD, TK dan SD ~ Life is Beautiful

Media Pembelajaran Elektronik untuk anak usia PAUD, TK dan SD ~ Life is Beautiful

Membaca Al-Quran

“ Mengapa kita perlu membaca Al-Quran?” Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/ area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-Quran. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan mencoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari. Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Quran sepertimu tapi aku tak biasa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa setelah aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-Quran jika tak memahami artinya?”. Sang kakek denga tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, menjawab pertanyaan sang cucu : “ Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.” Anak itu mengerjakan seperti yang di perintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata : “ Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali”. Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba kembali. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai rumah. Dengan terengah-engah dia berkata pada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti kerajangnya dengan air tersebut. Kakeknya mengatakan :” Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras.” Dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air akan tetap habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil/mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, air sudah habis dan keranjang situ kosong lagi. Denga terengah-engah, ia berkata :” Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Air di keranjang ini pasti akan habis di jalan sebelum sampai ke sini.” Sang kakek menjawab,: “ Nak, mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya? c oba lihat dan perhatikan baik-baik apa yang terjadi dengan keranjang itu”. Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. “Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al-Quran? Boleh jadi kamu tidak mengerti atau tidak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu akan menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupanmu”. Masyaallah, dengan membaca saja, Al- Quran itu penuh dengan barakah dan pahala, apalagi kalau kita memahami makna sejatinya. Semoga hati kita di bukakan untuk disentuh oleh makna hakiki Al-Quran. Amiiiin.

Pendidikan Berkarakter Kebangsaan

Ada yang salah dengan pendidikan generasi bangsa ini. Dunia remaja dan pelajar Indonesia masih jauh dengan dunia pendidikan. Pendidikan berkarakter kebangsaan pun jadi bahan wacana. Setiap tahun selalu diadakan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Namun hanya sekedar peringatan yang tidak berbekas apapun pada peserta didik. Hari peringatan akan percuma jika tetap tak ada yang bisa diberikan oleh dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan seharusnya merupakan daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin atau karakter), pikiran, dan tubuh anak, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam Bab II Pasal 3 UU Sisdiknas juga dituliskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Kenyataan yang terjadi saat ini, lembaga pendidikan memang sudah mulai banyak berdiri. Akan tetapi, pendidiknya masih banyak yang kurang berkualitas. Apa yang disampaikan pendidik terkadang tidak sesuai dengan kenyataan dirinya sendiri. Selain itu pula kenyataan yang kini terjadi sungguh sangat memiriskan. Depdiknas mencatat bahwa jumlah pengangguran terdidik sebanyak 961.001 orang, dan dari jumlah tersebut 598.00 lebih berstatus sarjana. Dan lebih dari 600 ilmuwan Indonesia saat ini bekerja di luar negeri. Serta generasi penerus bangsa meski mereka menempuh pendidikan namun perilakunya banyak yang tidak terdidik. Dunia remaja dan pelajar Indonesia hingga saat ini masih diwarnai dengan kekerasan, tawuran, kriminalitas, pergaulan bebas, miras, dan obat-obatan teralarang. Bahkan dari survei yang dilakukan terhadap pelajar di Jakarta, sebanyak 48,9 persen bersedia melakukan kekerasan terkait dengan isu agama dan moralitas (vivanews.com, 1 Mei 2011) Jika kita mau jujur, sistem pendidikan Indonesia merupakan sistem pendidikan terburuk dikawasn Asia, dari 12 negara yang di survei. Hal ini karena dunia pendidikan di Indonesia tidak memusatkan satu pendidikan saja pada peserta didiknya. Semua mata pelajaran diberikan tanpa ada konsentrasi penuh terhadap satu mata pelajaran saja. Peserta didik mendapatkan banyak sekali pelajaran tapi implementasi dari pelajaran yang didapat tidak dapat maksimal. Bahkan tidak jarang pula yang memilih untuk tidak mengaplikasikan pelajaran yang di dapatnya dari bangku sekolah. Mereka lebih tertarik pada dunia luar yang mereka temui dan rasakan secara langsung. Menghadapi kenyataan yang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini, Mendiknas menawarkan sebuah gagasan pendidikan yang baru yakni “Pendidikan Berkarakter Kebangsaan”. Sebuah wacana yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan. Gagasan tersebut kembali dikuatkan dalam waktu-waktu terakhir ini seiring dengan mencuatnya isu radikalisme agama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Serangkaian peristiwa pencucian otak di kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi penyebab utama di suarakannya kembali gagasan “Pendidikan Berkarakter Kebangsaan” ini. Gagasan ini dianggap penting karena bangsa yang unggul tidak hanya tercermin dari intelektualnya. Namun juga moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat. Pikiran yang positif dan sikap yang optimis, disertai rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi. Begitu pun halnya dalam Islam, konsep pendidikan berkarakter juga dijadikan tema pembahasan. Dalam Islam, tarbiyah (pendidikan) itu bukan hanya memindahkan ilmu dari satu pihak ke pihak lain, namun juga penanaman nilai-nilai luhur atau akhlakul karimah, serta pembentukan karakter. Dengan demikian gagasan pendidikan berkarakter untuk memajukan bangsa ini sebenarnya bisa disinergikan dengan konsep pendidikan dalam Islam. Di samping memiliki tujuan yang sama yakni membentuk karakter pada pendidik dan peserta didik, Islam juga mengajarkan orang yang berilmu untuk selalu menyebarkan ilmunya pada orang lain.